Badai Matthew kategori empat menerjang Haiti yang termasuk dalam kawasan Laut Karibia. Sekira 2,1 juta orang menderita karenanya. Menurut perhitungan Pemerintah Haiti, sedikitnya 1,5 juta penduduk membutuhkan bantuan kemanusiaan langsung dan segera. Termasuk di antaranya ada lebih dari 140 ribu orang yang masih tinggal di penampungan sementara.
Laporan lembaga nirlaba internasional J/P HRO membenarkan pernyataan sang presiden mengenai kondisi terkini rakyat Haiti. Organisasi kemanusiaan yang sudah mengirimkan bantuan ke Haiti sejak 2010 itu mengatakan, krisis pangan yang dikhawatirkan itu benar-benar akan terjadi dalam waktu relatif sangat dekat.
“Apa yang kami lihat di sini adalah kelaparan parah. Haiti mengalami tiga tahun kekeringan sebelum badai, jadi tingkat kekurangan gizi di sini pada dasarnya sudah tinggi. Sekarang puluhan dari ribuan are lahan dan jutaan pohon buah telah hancur (jadi situasi negara semakin mencekam),” beber ketua J/P HRO, Ann Lee.
Sepekan setelah Badai Matthew menghantam Haiti, PBB segera menyerukan penggalangan dana kilat untuk mencapai USD120 juta atau Rp1,629 triliun. Dalam kurun waktu sebulan lewat baru 38 persen dari tuntutan itu terpenuhi.
Pada kesempatan berbeda, Inggris Raya menyatakan komitmennya untuk membantu Haiti secara finansial sebesar USD8 juta atau Rp108 miliar. Sejauh ini, bantuan keuangan yang dijanjikan telah diserahkan ke PBB sebanyak USD1,3 juta atau Rp17,8 miliar. Walaupun terkesan lamban, juru bicara pemerintah Inggris menjelaskan, negaranya secara berangsur-angsur juga memberikan bantuan langsung berupa penyediaan air bersih, tempat penampungan, perbaikan sanitasi dan perlindungan.
(Silviana Dharma)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.