YANGON – Pemerintah Myanmar menahan empat orang personel kepolisian yang diduga melakukan penyiksaan terhadap etnis Rohingya di desa Kotankauk. Penahanan dilakukan setelah pemerintah berjanji akan menindak tegas para personel kepolisian berdasarkan bukti video yang diperoleh.
“Mereka yang sudah berhasil diidentifikasi, ditahan. Investigasi lebih lanjut dilakukan untuk mengetahui petugas polisi lainnya yang menyiksa warga desa dalam operasi tersebut,” bunyi pernyataan kantor penasihat negara Myanmar Aung San Suu Kyi, disitat Daily Mail, Senin (2/1/2017).
Salah satu petugas polisi yang ditahan bernama Zaw Myo Htike yang diketahui merekam video penyiksaan tersebut. Sejatinya, puluhan video mengenai penyiksaan yang dilakukan oleh aparat penegak hukum terhadap etnis Rohingya di negara bagian Rakhine bermunculan. Akan tetapi, ini adalah pertama kalinya pemerintah mengambil langkah tegas terhadap bukti-bukti tersebut.
Dalam bukti video tersebut, seorang polisi terlihat memukul seorang anak kecil di kepalanya saat bocah tersebut berjalan ke arah penduduk desa yang duduk dalam keadaan terikat. Tiga polisi lainnya kemudian mulai menyerang salah satu penduduk desa, memukulinya dengan tongkat, dan menendang beberapa kali ke arah wajah.
Operasi gabungan dilakukan aparat keamanan Myanmar di negara bagian Rakhine usai insiden pengeboman terhadap pos penjagaan di perbatasan dengan Bangladesh pada Oktober 2016. Pemerintah berdalih operasi dilakukan untuk memburu kelompok militan yang diduga sebagai pelaku penyerangan ke pos perbatasan.
Sayangnya, aparat keamanan diduga melakukan penyiksaan, pemerkosaan, pembunuhan, dan pembakaran tempat tinggal terhadap etnis Rohingya di Rakhine dalam menjalankan operasi tersebut. Akibatnya, sekira 50 ribu orang melarikan diri ke Bangladesh pada rentang Oktober-Desember 2016. Krisis di negara bagian Rakhine tersebut membuat Myanmar berada dalam sorotan komunitas internasional.
(Wikanto Arungbudoyo)