MOJOKERTO – Siapa sangka dari onggokan sisa kayu yang tampaknya tak berguna ternyata bisa diolah menjadi barang kerajinan yang bagus? Hasil karya itu bahkan bernilai jual.
Inilah yang dilakukan oleh pria yang berasal dari Dusun Capangan, Desa/Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto. Pria bernama Agus Suyitno (46) itu mengolah potongan-potongan kayu menjadi miniatur truk jumbo.
Cukup mudah menemukan kediaman bapak satu anak tersebut. Selain persis di depan rumahnya dilintasi jalan poros berstatus provinsi arah Mojosari–Japanan, Pasuruan, di lingkungan itu, dia merupakan satu-satunya yang menggeluti kerajinan miniatur truk.
Siang itu, di teras rumahnya, pria bertopi tersebut sibuk menyelesaikan hasil kreativitas tangannya. Dengan menggunakan palu kecil, serpihan kayu ditempelkan di kerangka miniatur truk. Bukan hanya itu, di ruang tamu dan depan rumah, puluhan truk yang sudah jadi terlihat berjajar rapi. Truk-truk hasil produksi tersebut sengaja dipajang untuk menarik perhatian pembeli yang melintas. ’’Sudah lama saya membuat miniatur truk ini,’’ ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Mojokerto.
Agus –panggilan akrab Agus Suyitno– menceritakan, meski kerajinan tangan yang dikerjakan bukan penopang utama ekonomi keluarga, pundi-pundi yang didapat dari hasil penjualan cukup menggiurkan. ’’Rezeki tidak ke mana. Laku disyukuri, tidak laku ya belum rezeki,’’ tuturnya santun.
Dalam melakoni kerajinan miniatur bak terbuka tersebut, dia dibantu istrinya, Kasening, 38. Terkadang, keduanya harus lembur hingga larut pagi. ’’Sehari kadang dapat dua. Itupun sudah kerja keras. Tapi, ya lebih banyak kami kerjakan malam. Kalau siang saya kerja jadi tukang bangunan,’’ terangnya.
Agus menjelaskan, bahan baku yang digunakan berasal dari daur ulang atau kayu bekas. Dengan kreativitas yang dimiliki, dia terus membuat terobosan miniatur truk yang berdaya saing tinggi dan berkualitas.
Miniatur truk dengan panjang 60 sentimeter dan tinggi 45 sentimeter, kata Agus, mampu menahan beban lebih dari 60 kilogram. ’’Lihat saja, saya naiki tidak rusak dan patah. Bahannya boleh daur ulang, tapi kualitasnya tetap bisa bersaing,’’ tuturnya sembari mempraktikkan.