Diterbitkan seminggu sekali, setiap Selasa dan Jumat, surat kabar ini ini mempunyai nama agak unik. Tentunya juga menggeliat untuk ukuran sebuah koran.
Meski namanya Retno Doemilah, ini bukan surat kabar tentang perempuan. Media tersebut menjadi ladang semai pendiri bangsa yang menyusun puzzle batu bata kebangsaan satu demi satu. Di sinilah mula-mula Wahidin Soedirohoesodo, Dr Soetomo, dan Wignjohadjo duduk sebagai redaktur.
Ketika menakhodai Retno Doemilah dengan posisi sebagai redaktur, pekerjaan Wahidin seakan dimudahkan. Banyak kalangan guru menyokongnya dan menjadi pelanggan setia.
Tentu saja, mereka yang menjadi pelanggan bukan hanya bupati-bupati yang cuma bisa baca huruf dan bahasa Jawa. Melainkan juga para priyayi dan anaknya yang telah mendapatkan pengajaran Belanda dan melek bahasa Melayu dan huruf latin.
Menariknya lagi, masa ketika politik etis bekerja juga berpengaruh bagi surat kabar Retno Doemilah. Terutama pengajaran, serta kebebasan yang diberikan Gubernur Jenderal, Van Heuts, kepada Boemiputra. Dengan politik balas budi itu, para priyayi Jawa memungkinkan mendapatkan pengajaran dalam lingkup masyarakat kelas dua (Tionghoa) dan kelas satu (Belanda).
Sejak itu, Retno Doemilah dipenuhi para priayi Jawa yang duduk di meja redaksi. Kemudian Wahidin dan Soetomo memanfaatkan surat kabar ini untuk menggalang kesatuan priayi Jawa.