Share

Pengalaman Nissa, Wartawan Cantik yang Rela Dikelilingi Buaya Demi Tugas

Melly Puspita, Okezone · Jum'at 10 Februari 2017 01:07 WIB
https: img.okezone.com content 2017 02 10 340 1614366 pengalaman-nissa-wartawan-cantik-yang-rela-dikelilingi-buaya-demi-tugas-hQmsDYbsB4.jpg Fahrun Nissa saat bertugas menyusuri hutan yang terbakar di Banyuasin (Foto: Melly/Okezone)

SUMSEL - Wartawan adalah profesi yang membutuhkan keberanian sekaligus kecermatan. Meminjam istilah yang sering dipakai Almarhum Sutan Bhatoegana, pekerjaan wartawan merupakan profesi "ngeri-ngeri sedap".

Istilah tersebut kadang diutarakan untuk menggambarkan betapa besar risiko menjadi seorang wartawan, dibanding profit yang dihasilkan. Jadi, mungkin banyak orang yang memilih profesi wartawan sebagai panggilan jiwa bagi penyuka tantangan.

Salah satu contoh betapa menjadi seorang pewarta memiliki risiko yang besar, pernah dialami oleh wartawan daerah Sumatera Selatan, Fahrun Nissa pada tahun 2015 lalu.

Saat itu, tercatat tiga bayi meninggal dunia akibat kabut asap yang menyelimuti daerah Palembang dan sekitarnya. Penyebabnya bisa dipastikan, kebakaran hutan di Tanah Sumatera yang seolah menjadi momok tahunan bagi warga sekitar.

Kebakaran hutan sendiri bukan hanya merugikan warga di tanah Sumatera, beberapa daerah tetangga seperti Malaysia dan Singapura ikut kena imbas dari perbuatan yang disinyalir dilakakukan secara sengaja untuk membuka lahan gambut di sekitar hutan. Tak ayal banyak pihak dari dalam maupun luar negeri membantu upaya pemadaman kebakaran hutan.

Di tahun 2015, TNI dan Polri hingga instansi luar negeri berbondong mencari penyebab kebakaran hutan. Tentu, lokasi yang sulit dijangkau menjadi tantangan terbesar bagi para pemadam.

Disinilah, Fahrun Nissa, salah satu wartawan TV yang telah memakan asam garam di dunia media ditugaskan melakukan peliputan di area hutan Kodam II/Sriwijaya.

Meskipun tahu resiko yang diambil cukup besar, tapi dirinya yakin akan keberhasilan tim Marinir mengungkap kasus kebakaran hutan dan lahan tersebut. Segala jenis persiapan telah dilakukan kurang lebih satu minggu untuk menghadapi tantangan ke depan.

Nissa bersama pasukan marinir bergerak, merengsek masuk ke dalam hutan dari Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Selama beberapa jam berjalan, Nissa dan tim pergi menyusuri sungai menggunakan kendaraan darat. Saat dirasa jalan darat tak mampu lagi dicapai, mereka pun harus menggunakan tugboat sebagai moda transportasi teraman.

Nahas, pada malam yang kelam, tugboat yang mereka naiki, sempat mati mesin di tengah sungai. Hati Nissa sempat khawatir lantaran dari sorotan mata, tugboat mereka sudah dikelilingi Buaya Muara.

"Ya, jantung rasanya mau copot saat itu, karena tugboat kan kecil eh mesin mati di tengah sungai lantas ada beberapa buaya muara mendekati tugboat kami," tutur Nissa.

Beruntung tak berapa lama setelah terombang-ambing terbawa arus sungai, tugboat mereka berhasil hidup kembali. Tim kembali melanjutkan perjalanan melalui sungai-sungai kecil yang memang jarang dilalui oleh warga setempat.

"Saat kami sampai di posko TNI itu kami harus makan dengan makanan khas dari pihak Prajurit, berbentuk makanan kaleng dan saya harus terbiasa dengan kondisi itu dan menerima bahwa tugas prajurit tidak semudah yang saya pikirkan," jelasnya.

Waktu terus berjalan, penyusuran ke dalam hutan baru saja dimulai, tidak ada sinyal untuk berkomunikasi, kendaraan tidak bisa masuk karena jalan yang tidak memungkinkan. Tim harus berjalan kaki hingga berkilo-kilo meter jauhnya sambil menahan pekatnya kabut asap yang semakin menjadi-jadi, memedihkan mata dan menusuk ke tenggorokan.

"Selama perjalanan kami lihat di sana banyak sekali tanda-tanda pembukaan lahan secara paksa, bekas kayu yang digusur oleh alat berat, kayu-kayu itulah yang dibakar secara membabi buta sehingga menimbulkan kabut asap," ucap wanita berusia 23 tahun tersebut.

Banyak titik yang mereka temukan sebagai dalang dari kabut asap yang terjadi. Saat menyusuri hutan itu lah, mereka juga menemukan sejumlah alat berat yang sengaja dimasukan ke dalam sungai untuk menghilangkan bukti karena pergerakan oknum pembabat hutan itu mulai tercium aparat.

"Kami lihat ada beberapa alat berat direndam ke dalam sungai, karena untuk menghilangkan barang bukti bahwa ada yang membuka lahan besar-besaran di wilayah sana," ungkap Nissa bersemangat.

"Tiba malam, kami beristirahat di tengah hutan, mendirikan tenda, parahnya ketika akan makan, stok makanan kami menipis. Dan menakjubkan prajurit yang ada di lokasi segera mengambil alat untuk menangkap atau memancing ikan, ikan yang didapat bisa digunakan untuk kami makan," ucapnya semringah.

Waktu semakin larut, sayup-sayup mereka dengar binatang buas mulai mendekati lokasi mereka, prajurit masih ada yang berjaga-jaga di luar tenda, beruntung binatang tersebut hanya numpang lewat di dekat tenda mereka.

Esok paginya, mereka kembali melakukan perjalanan mencari otak pelaku pembakaran hutan, namun tidak juga mereka dapati, hanya barang bukti berupa alat berat yang direndam disungai serta bekas kayu yang terbakar.

"Kami kembali tanpa berhasil membawa pelaku pembakaran, karena disinyalir kegiatan yang kami lakukan sampai ke telinga para pelaku, meskipun begitu pengalaman ini merupakan pengalaman berharga dan mengingatkan bahwa tugas prajurit tidaklah mudah," tutup Nissa.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini