NEWS STORY: Hanandjoeddin, sang Elang Negeri Laskar Pelangi Menjemput Gelar Pahlawan Nasional

Randy Wirayudha, Jurnalis
Sabtu 11 Februari 2017 10:01 WIB
Persemayaman terakhir H AS Hanandjoeddin di Taman Makam Pahlawan Ksatria Tumbang Ganti (Foto: Randy Wirayudha)
Share :

PULAU Belitung tak dimungkiri kian populer berkat Novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata pada 2005 yang mengisahkan humanisme 10 bocah dari keluarga miskin. Setelah itu, pariwisatanya berkembang pesat dan jadi alternatif yang tak kalah memesona dari Bali atau Lombok.

Namun tahukah Anda bahwa Belitung yang kini dikenal dengan sebutan “Negeri Laskar Pelangi” juga punya tokoh-tokoh yang berpengaruh dalam sejarah bangsa? Salah satunya tokohnya diabadikan sebagai nama bandara kalau kita hendak pelesiran ke Belitung.

Ya, Bandara H AS Hanandjoeddin di Kota Tanjung Pandan tentunya. Selain penamaan, di dekat pintu keluar bandara ini juga ada patung beliau. Makamnya pun tak jauh dari bandara yakni di Taman Makam Pahlawan Kesatria Tumbang Ganti di Jalan Jenderal Sudirman, Tanjung Pandan.

Di masa mudanya setelah melewati masa kecil yang sulit, Anan –sebutan singkat Hanandjoeddin– pernah mengais nafkah di tambang timah, bauksit, hingga merantau ke Malang, Jawa Timur, sebagai montir pesawat Jepang.

Masa kemerdekaan pasca-Proklamasi 17 Agustus 1945 membuatnya turut ikut revolusi fisik sebagai perwira Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) yang berbasis di Malang. Sepulangnya dari masa perang, Hanandjoeddin sempat jadi Bupati periode 1967–1972.

Kisah-kisahnya banyak dikumpulkan Haril M Andersen dalam sebuah buku bertajuk ‘Sang Elang: Serangkai Kisah Perjuangan H AS Hanandjoeddin di Kancah Revolusi Kemerdekaan RI’ terbitan 2015. Belakangan Hanandjoeddin tengah diupayakan untuk bisa “menjemput” gelar pahlawan nasional.

Berbincang dengan sang penulis, Haril M Andersen, disebutkan bahwa pengusulan H AS Hanandjoeddin untuk jadi pahlawan nasional, pemikirannya berawal dari acara bedah bukunya di Pangkal Pinang pada 2 November 2015.

“Ketika itu salah seorang panelisnya, Ir H Toni Batubara (ketua FKPPI Kabupaten Belitung), melontarkan gagasan perlunya dijajaki pengusulan Hanandjoeddin jadi pahlawan nasional, mengingat sepak terjang perjuangan beliau semasa revolusi kemerdekaan hingga era setelah kemerdekaan,” urai Haril kepada Okezone.

“Berangkat dari pemikiran itu, saya mengomunikasikan dengan berbagai kalangan di Pulau Belitung. Alhamdulillah sampai 2017, dukungan datang dari para guru, akademisi, pengurus Nahdlatul Ulama (NU), ormas pemuda yang diharapkan usulan formilnya bisa dilakukan tahun ini,” imbuhnya.

Mengenai prosesnya, beber Haril, baru sampai tingkat daerah dengan sudah memegang SK Bupati Belitung Timur Nomor sejak 23 Januari 2017. Dari situ, dibentuklah Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TPPGD) Kabupaten Belitung Timur. Haril jadi satu dari 13 anggota dengan diketuai Syamsul Hairun.

SK Bupati tersebut menguatkan SK Gubernur Bangka Belitung (Babel) yang sudah terbit sejak 12 Juni 2016. SK Gubernur itu jadi landasan Hanandjoeddin diusulkan sebagai pahlawan nasional, bersamaan dengan enam tokoh dari Provinsi Babel lainnya untuk juga jadi pahlawan nasional.

“Selain Hanandjoeddin, dari Provinsi Babel yang diusulkan ada Depati Amir, Depati Bahrin, Depati Karim, Achmad Rasjidi, Pahlawan 12 dan Sahabuddin. Untuk saat ini, sedang tahap diskusi yang dimulai 18 Februari dan persiapan seminar nasional yang rencananya Maret,” sambung Haril.

“Tim kami akan berusaha seoptimal mungkin untuk menaikkan usulannya ke (pemerintah) pusat tahun ini juga. Kami berharap usulan ini nantinya akan diterima oleh pemerintah pusat,” tandasnya.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya