Pada hari kedua kunjungannya di Indonesia, Kamis, 11 Juni 1970, Raja Faisal dan Presiden Soeharto melangsungkan pertemuan selama satu setengah jam di Istana Negara untuk membahas serangkaian isu. Dalam pertemuan itu, Presiden Soeharto secara resmi kembali menegaskan komitmen Indonesia untuk mendukung perjuangan Bangsa Arab menghadapi Israel.
Setelah pertemuan terebut, pada siang harinya Raja Faisal melakukan kunjungan ke Masjid Istiqlal yang saat itu masih belum rampung dibangun. Kehadiran Raja Faisal disambut gemuruh takbir dari ribuan warga yang menyambut kedatangannya. Penyambutan sang tamu agung juga dimeriahkan dengan barisan anak-anak memainkan rebana dan melantunkan lagu kasidah. Dikutip dari Antara, 11 Juni 1970, barisan penyambut Raja Faisal ini dikumpulkan dari 50 unit kasidah rebana dari penjuru Ibu Kota.
Raja juga dibawa berkeliling masjid dan sempat menyambangi ruangan utama salah satu masjid terbesar di Asia Tenggara itu. Selama dibawa berkeliling bangunan Masjid, Raja Faisal sekali-kali memberikan informasi mengenai hal-hal yang perlu diperhatikan saat membangun masjid.
Padatnya aktivitas yang dilakukan Raja Faisal hari itu membuat sang tamu agung jatuh sakit dan terpaksa membatalkan sejumlah acara hari itu. Acara pertama yang dibatalkan adalah pertemuan yang merupakan kunjungan balasan Presiden Soeharto di Wisma Negara dan yang kedua adalah konferensi pers di tempat yang sama pada sore hari.
Meski begitu, Raja Faisal tidak melewatkan undangan santap malam bersama Presiden Soeharto di Hotel Indonesia. Jamuan makan malam ini terbilang unik karena dibuka tanpa bersulang seperti yang biasanya dilakukan para pemuka negara pada acara resmi.
Kebiasaan bersulang itu ditiadakan oleh Presiden Soeharto untuk menghormati Raja Faisal yang menganggap tata cara itu tidak Islai. Sebagai gantinya Presiden Seoharto meminta hadirin berdiri dan bersama-sama memanjatkan doa menurut kepercayaannya masing-masing.