Sebelum jamuan makan malam dimulai, Presiden Soeharto dan Raja Faisal menggelar tukar menukar cinderamata. Raja Saudi mendapat kenang-kenangan berupa keris buatan Yogyakarta dan macan yang telah diawetkan.
Begitu juga sebaliknya, Raja Faisal menyerahkan tanda mata sebilah pedang yang disepuh emas kepada Presiden Indonesia. Bentuknya menyerupai pedang yang tertera dalam lambang kenegaraan dan bendera kebangsaan Saudi.
Kegiatan kunjungan Raja Faisal, pada Jumat, 12 Juni 1970, diisi pidato persahabatan di depan rapat pleno Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPRGR). Dalam pidato berbahasa Arab yang disampaikan tanpa menggunakan naskah tersebut, Raja Faisal menyinggung beberapa persoalan yang tengah dihadapi dunia saat itu di antaranya mengenai persatuan umat beragama, perlawanan terhadap zionisme dan keadaan keamanan di wilayah Indochina.
Dari DPRGR, Raja Faisal kemudian melakukan salat Jumat di Masjid Al Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Pusat. Prof. Dr. H. Hamka bertindak sebagai imam salat sedangkan khatib diisi oleh Menteri Sekretaris Negara Alamsyah Perwiranegara.
Menutup kegiatan hari itu, Raja Faisal mengadakan jamuan makan malam untuk menghormati Presiden Soeharto dan Ibu Negara Ny. Tien Soeharto. Seperti juga jamuan makan sebelumnya, acara yang digelar di Bali Room Hotel Indonesia itu juga tidak diisi dengan toast atau bersulang, tanpa musik dan tanpa minuman beralkohol.
Setelah empat dekade berlalu, Raja Arab Saudi yang kini dijabat oleh Salman bin Abdulaziz al Saud kembali berkunjung ke Indonesia. Meski membawa misi yang sedikit berbeda, diharapkan kedatangannya dapat memperkuat hubungan Saunesia yang telah terbina sejak lama.
(Emirald Julio)