HISTORIPEDIA: Raja Arab Saudi Faisal bin Abdulaziz Mengunjungi Indonesia

Rahman Asmardika, Jurnalis
Rabu 01 Maret 2017 06:03 WIB
Foto presiden kedua RI Soeharto dengan Raja Faisal (Foto: M Saleh/Angkatan Bersenjata)
Share :

EMPAT puluh tujuh tahun lalu, tepatnya pada 10 Juni 1970, Raja Arab Saudi Faisal bin Abdulaziz al Saud tiba di Bandara Internasional Kemayoran sekira pukul 11.15 waktu Indonesia Barat (WIB) untuk mengawali lawatan empat harinya di Indonesia dari 10-13 Juni 1970. Kunjungan tersebut tercatat dalam sejarah sebagai kali pertama seorang Pemimpin Dinasti Saud datang ke Bumi Nusantara.

Kedatangan Pelindung Dua Kota Suci disambut secara langsung oleh Presiden Republik Indonesia Soeharto yang menunggu di tangga pesawat. Purnawirawan Jenderal itu ditemani Menteri Luar Negeri (Menlu) Adam Malik dan Gubernur Jakarta Ali Sadikin.

Kunjungan Raja Faisal ini ditujukan untuk mempererat hubungan persahabatan kedua negara sekaligus menggalang dukungan bagi perjuangan negara-negara Arab di Timur Tengah. Beberapa topik yang menjadi pembahasan kedua kepala negara selama kunjungan tiga hari itu antara lain mengenai masalah Israel, masalah haji, dan perdagangan antara Indonesia dengan Arab Saudi.

Usai diterima dengan upacara penyambutan tamu negara, Raja Faisal bertolak ke Wisma Negara untuk beristirahat sejenak. Sepanjang perjalanan, iring-iringan tamu agung itu disambut meriah oleh rakyat Indonesia yang melambaikan panji-panji bertulis aksara Arab dan mengelukan Raja Faisal.

Di Istana Negara, Raja Faisal disambut Presiden Soeharto dan Ibu Negara Ny. Tien, Menlu Adam Malik, Sekretaris Negara Alamsyah dan Menteri Idham Chalid. Pada sore hari, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin mempersembahkan sebuah kendi keemasan lambang kota sebagai tanda selamat datang di ibu kota.

Di hari itu juga Raja Faisal menerima undangan jamuan kenegaraan bersama di Istana Negara di mana Presiden Soeharto menyampaikan dukungan Indonesia terhadap perjuangan negara-negara Arab dalam konflik di Timur Tengah.

Pada hari kedua kunjungannya di Indonesia, Kamis, 11 Juni 1970, Raja Faisal dan Presiden Soeharto melangsungkan pertemuan selama satu setengah jam di Istana Negara untuk membahas serangkaian isu. Dalam pertemuan itu, Presiden Soeharto secara resmi kembali menegaskan komitmen Indonesia untuk mendukung perjuangan Bangsa Arab menghadapi Israel.

Setelah pertemuan terebut, pada siang harinya Raja Faisal melakukan kunjungan ke Masjid Istiqlal yang saat itu masih belum rampung dibangun. Kehadiran Raja Faisal disambut gemuruh takbir dari ribuan warga yang menyambut kedatangannya. Penyambutan sang tamu agung juga dimeriahkan dengan barisan anak-anak memainkan rebana dan melantunkan lagu kasidah. Dikutip dari Antara, 11 Juni 1970, barisan penyambut Raja Faisal ini dikumpulkan dari 50 unit kasidah rebana dari penjuru Ibu Kota.

Raja juga dibawa berkeliling masjid dan sempat menyambangi ruangan utama salah satu masjid terbesar di Asia Tenggara itu. Selama dibawa berkeliling bangunan Masjid, Raja Faisal sekali-kali memberikan informasi mengenai hal-hal yang perlu diperhatikan saat membangun masjid.

Padatnya aktivitas yang dilakukan Raja Faisal hari itu membuat sang tamu agung jatuh sakit dan terpaksa membatalkan sejumlah acara hari itu. Acara pertama yang dibatalkan adalah pertemuan yang merupakan kunjungan balasan Presiden Soeharto di Wisma Negara dan yang kedua adalah konferensi pers di tempat yang sama pada sore hari.

Meski begitu, Raja Faisal tidak melewatkan undangan santap malam bersama Presiden Soeharto di Hotel Indonesia. Jamuan makan malam ini terbilang unik karena dibuka tanpa bersulang seperti yang biasanya dilakukan para pemuka negara pada acara resmi.

Kebiasaan bersulang itu ditiadakan oleh Presiden Soeharto untuk menghormati Raja Faisal yang menganggap tata cara itu tidak Islai. Sebagai gantinya Presiden Seoharto meminta hadirin berdiri dan bersama-sama memanjatkan doa menurut kepercayaannya masing-masing.

Sebelum jamuan makan malam dimulai, Presiden Soeharto dan Raja Faisal menggelar tukar menukar cinderamata. Raja Saudi mendapat kenang-kenangan berupa keris buatan Yogyakarta dan macan yang telah diawetkan.

Begitu juga sebaliknya, Raja Faisal menyerahkan tanda mata sebilah pedang yang disepuh emas kepada Presiden Indonesia. Bentuknya menyerupai pedang yang tertera dalam lambang kenegaraan dan bendera kebangsaan Saudi.

Kegiatan kunjungan Raja Faisal, pada Jumat, 12 Juni 1970, diisi pidato persahabatan di depan rapat pleno Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPRGR). Dalam pidato berbahasa Arab yang disampaikan tanpa menggunakan naskah tersebut, Raja Faisal menyinggung beberapa persoalan yang tengah dihadapi dunia saat itu di antaranya mengenai persatuan umat beragama, perlawanan terhadap zionisme dan keadaan keamanan di wilayah Indochina.

Dari DPRGR, Raja Faisal kemudian melakukan salat Jumat di Masjid Al Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Pusat. Prof. Dr. H. Hamka bertindak sebagai imam salat sedangkan khatib diisi oleh Menteri Sekretaris Negara Alamsyah Perwiranegara.

Menutup kegiatan hari itu, Raja Faisal mengadakan jamuan makan malam untuk menghormati Presiden Soeharto dan Ibu Negara Ny. Tien Soeharto. Seperti juga jamuan makan sebelumnya, acara yang digelar di Bali Room Hotel Indonesia itu juga tidak diisi dengan toast atau bersulang, tanpa musik dan tanpa minuman beralkohol.

Setelah empat dekade berlalu, Raja Arab Saudi yang kini dijabat oleh Salman bin Abdulaziz al Saud kembali berkunjung ke Indonesia. Meski membawa misi yang sedikit berbeda, diharapkan kedatangannya dapat memperkuat hubungan Saunesia yang telah terbina sejak lama.

(Emirald Julio)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya