PERJALANAN perjuangan republik di masa revolusi, tidaklah se-hitam dan putih seperti yang ada di buku-buku pelajaran sekolah. Banyak rintangan menghadang dan tidak hanya dari pihak asing, melainkan dari bangsa sendiri.
Betapa tidak, pasalnya saat negeri kita tengah dirongrong sekutu yang diboncengi Belanda dan jadi pihak musuh untuk dilawan, di satu sisi Tentara Republik Indonesia (TRI, kini TNI) mesti berhadapan dengan elemen-elemen laskar yang susah diatur.
Seperti pasca-Perjanjian Linggarjati. Pemerintah dan TRI wajib mematuhi segala isi perjanjian itu yang sayangnya, enggan turut diikuti elemen perjuangan lain. Laskar Rakjat Djakarta Raja (LRDR) misalnya.
LRDR jadi salah satu elemen laskar yang ikut bercokol di front terdepan republik di timur Jakarta. Gesekan antara tentara republik dan laskar mencapai klimaksnya ketika Komandan Resimen Cikampek (membawahi wilayah Jakarta, Bekasi, Karawang, Cikampek) Letkol Suroto Kunto hilang secara misterius.
Tepatnya pada akhir November 1946, Letkol Suroto Kunto yang belum lama menggantikan Letkol Muffreini Mu’min sebagai Komandan Resimen Cikampek, Divisi Siliwangi, hilang bersama beberapa bawahannya saat hendak berperjalanan dengan mobil ke Karawang.
Saat itu, Letkol Suroto Kunto mestinya akan menginspeksi wilayahnya dalam rangka realisasi gencatan senjata dengan Belanda pasca-Perjanjian Linggarjati. Tapi tiba-tiba tak pernah lagi Suroto Kunto memunculkan batang hidungnya.
Mobil yang dikendarainya, ditemukan pada suatu dini hari di Warung Jambu, sekira 10 kilometer dari Kota Karawang. Diduga kuat, Suroto Kunto diculik dan dibunuh. Namun hal itu tak kunjung bisa dikonfirmasi karena jasadnya tak pernah ditemukan.
Jelas Panglima Divisi Siliwangi Mayjen Abdoel Haris (AH) Nasution heran dan berang. Tuduhan tentang pelaku penghilangan Suroto Kunto kemudian tertuju pada LRDR yang isinya, banyak para pemuda golongan kiri pengikut Tan Malaka.
Mendengar kabar hilangnya Suroto Kunto, Komandan Brigade Purwakarta Letkol Daan Jahja segera bergerak ke Karawang. Bersama anak buahnya, Daan Jahja menahan Darwis, salah satu pemimpin laskar dengan harapan, bisa “dibarter” seandainya Suroto Kunto diculik tapi masih hidup.
Tapi setelah beberapa lama, kabar tentang Suroto Kunto tak kunjung ada kejelasan. Darwis nyaris dihabisi kalau saja AH Nasution tak mencegahnya. Dampaknya, Daan Jahja justru “dimutasi” dari Brigade Purwakarta ke Tasikmalaya, sementara di Purwakarta diangkat Letkol Sidik Brotoatmodjo.
Situasinya begitu pelik karena di satu sisi, rongrongan Belanda terus terjadi di sejumlah titik garis demarkasi antara tentara Belanda dan TRI di pinggir timur Kota Jakarta, tepatnya antara Tambun sampai Karawang.
Makanya sebelum menggelar aksi sapu bersih, TRI lebih dulu minta pemakluman tentara Belanda agar tak dulu bikin ricuh, sementara TRI membereskan konflik dengan laskar.
“Sidik Brotoatmodjo kirim telegram ke Komandan Brigade II dari Divisi 7 Desember Kolonel Thompson di Bogor dan panglimanya di Jakarta” terang sejarawan Rushdy Hoesein dalam pemaparannya di sebuah seminar bertajuk ‘Bekasi di Masa Revolusi 1945-1949’ di Aula Asrama Haji, Bekasi, beberapa waktu lalu.
“Isinya dia ingin membersihkan areanya dan berharap Belanda tidak mengganggu. Habis itu pada April 1947, barulah TRI bergerak mengepung LRDR, BPRI dan KRIS. Mereka digempur TRI Siliwangi atas perintah Nasution. Banyak yang ditangkap, salah satunya bapak saya,” imbuh Rushdy.
Nah, sisanya yang berhasil kabur, seperti Panji, justru gabung Belanda ikut HAMOT (Hare Majesteit’s Ongeregelde Troepen) atau Laskar Sri Ratu. Pertempuran di antara bangsa sendiri ini sedianya sudah sempat diprediksi pemimpin Laskar Hisbullah, KH Noer Ali.
Petarung republik yang juga ulama ternama di utara Bekasi itu sempat tidak mendukung keputusan laskar-laskar di Bekasi-Karawang, untuk turut berpolitik dan mengambil tindakan sendiri di luar kebijakan pemerintah.
Puncaknya, KH Noer Ali memutuskan mundur sebagai Ketua Laskar Rakyat Bekasi sebelum terjadi konflik antara TRI dan LRDR. KH Noer Ali tak setuju ketika LRDR memprakarsai Persatuan Perjuangan (PP) dan ingin menarik Laskar Rakyat Bekasi ke dalamnya.
“Apa yang saya takutkan terjadi. Pertempuran antara TRI dengan LRDR di Karawang dan Tambun,” cetus KH Noer Ali dalam buku ‘KH Noer Ali: Kemandirian Ulama Pejuang’ karya Ali Anwar.
KH Noer Ali sendiri saat friksi TRI vs laskar bergulir, memilih “menyingkir” dan justru ingin mengefektifkan Batalyon III Hisbullah. KH Noer Ali menyatukan perjuangannya bersama Batalyon III Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pimpinan M Hasibuan.