Pada abad ke-18, pola pikirnya berubah lagi. Denis Diderot, seorang pemikir terkemuka sekaligus editor Encyclopedie, menilai kalau pertanyaan klasik itu tidak sesederhana kelihatannya. Menurutnya, masa lalu para binatang penuh ketidakpastian seperti masa depan mereka.
"Jika pertanyaan mana lebih dulu ayam atau telur membuat Anda malu, itu karena Anda membayangkan asal-usul para binatang itu seperti yang sudah ada sekarang," ujar Diderot pada 1769.
Teori Evolusi Charles Darwin yang dibukukan dalam ‘On the Origin of Species’ pada 1859 membuat persoalan ini makin pelik. Demikian kata Sorenson. "Penelitian Darwin itu menjelaskan kalau pemikiran Diderot ada benarnya juga, namun penekanan Darwin pada perubahan bertahap, didukung prinsip warisan genetik Gregor Mendel, menghasilkan perpaduan antara kepastian dan misteri yang terus berlanjut hingga hari ini. Kalau telur seharusnya jadi yang muncul duluan, tetapi tidak tahu kapan," terangnya.
Sementara pertanyaan tersebut sudah cukup banyak dicari solusinya secara ilmiah, para filsuf terus menjadikannya perdebatan tak berujung. Sorenson berpendapat, setidaknya pertanyaan itu asyik untuk bermeditasi.
"Ini memang pertanyaan yang mengesankan. Anda ingin menganggap ini sekadar pertanyaan bodoh, yang membuktikan kalau Anda tidak sabar. Tetapi ini memang bukan pertanyaan bodoh," komentar Sorenson.
(Silviana Dharma)