KEHILANGAN orang-orang terkasih dalam musibah tentu bukan sesuatu yang diharapkan siapapun di dunia. Demikian halnya yang terjadi kepada sekira 40 ribu warga Kota Mocoa, Provinsi Putumayo, Kolombia. Mereka kini dihinggapi rasa putus asa untuk mencari kerabatnya yang masih tertimbun lumpur.
Musibah tanah longsor menerjang ketika mereka tengah tertidur lelap pada Sabtu 1 April 2017 dini hari waktu setempat. Seorang saksi mata mengakui bahwa alarm peringatan bencana sempat berbunyi. Tetapi, kuatnya suara getaran gedung menimpa alarm peringatan tersebut.
Tak pelak, tidak semua warga sadar akan bahaya yang sedang mengintai mereka saat itu. Jumlah korban tewas perlahan terus merangkak naik. Hingga Minggu 2 April sore waktu setempat, korban tewas sudah mencapai 254 orang. Musibah tanah longsor juga menyebabkan 400 lainnya luka-luka.
“Kita tidak tahu seberapa banyak korban nantinya. Kami terus melakukan pencarian,” tutur Presiden Kolombia Juan Manuel Santos saat meninjau lokasi, seperti dimuat USA Today, Senin (3/4/2017). Ia juga menambahkan, status darurat sudah diberlakukan untuk Kota Mocoa.
Juan Manuel Santos mengingatkan bahwa jumlah korban dapat meningkat sewaktu-waktu. Sebanyak 1.100 orang tim penyelamat gabungan tentara dan kepolisian dikerahkan untuk mencari sekira 200 orang yang dinyatakan hilang. Tim penyelamat berpacu dengan waktu dalam melaksanakan tugasnya.
Warga terus mencari serta menggali di bawah reruntuhan tempat tinggal mereka dengan harapan dapat menemukan kerabat atau menyelamatkan harta benda yang tersisa. Beberapa warga juga memadati rumah sakit untuk mencari anggota keluarganya yang tidak berada dalam daftar korban tewas atau luka-luka.
Musibah tanah longsor tersebut terjadi akibat tingginya intensitas hujan yang menyebabkan Sungai Mocoa dan tiga anak sungainya meluap. Air yang kemudian bercampur dengan lumpur menerjang rumah-rumah warga. Para penduduk tidak memiliki waktu yang cukup untuk menyelamatkan diri.
Juan Manuel Santos menuding perubahan iklim sebagai penyebab longsor. Sebab, curah hujan dalam semalam saat itu hampir mencapai setengah jumlah total curah hujan Mocoa dalam keadaan normal di sepanjang Maret. Otoritas Nasional Kolombia harus meningkatkan upaya pencegahan terhadap tragedi serupa karena sebentar lagi puncak musim hujan.
Musibah tanah longsor tersebut tampaknya akan diingat sebagai salah satu bencana alam paling buruk sepanjang sejarah Kolombia. Negara yang terletak di Pegunungan Andes itu memang dikenal rawan terkena bencana alam.
Hingga saat ini, bencana alam paling parah adalah ketika 25 ribu orang meninggal dunia akibat letusan Gunung Berapi Nevado del Ruiz pada 1985. Letusan gunung memicu banjir lumpur yang mengubur Kota Armero.
(Wikanto Arungbudoyo)