RAKYAT Italia sudah tidak tahan lagi. Puluhan tahun lamanya berada di bawah kekuasaan diktator Benito Mussolini yang terkenal dengan paham fasisme membuat hidup semakin merana. Puncaknya, 19 April 1945 ribuan warga Italia melakukan protes besar-besaran di seluruh negeri.
Beberapa tahun sebelumnya, sejumlah partai politik membentuk Komite Nasional Pembebasan Italia Utara (CLNAI) untuk menandingi kekuatan fasisme pimpinan Benito Mussolini. CLNAI mendapatkan dukungan dari Kerajaan Italia dan pasukan sekutu dalam menggalang demonstrasi massal pada 1945 tersebut.
Bologna menjadi kota pertama di bagian utara Italia yang dibebaskan dari cengkeraman pengikut Mussolini pada 21 April 1945. Beberapa hari kemudian tepatnya 23 April, Genoa juga berhasil dibebaskan. Puncak pembebasan yang kemudian diklaim sebagai keberhasilan terjadi pada 25 April 1945.
Dua kota besar di utara Italia direbut kembali dari tangan fasisme, yakni Milan dan Turin. Milan adalah rumah dari CLNAI, sementara Turin posisinya sangat signifikan karena merupakan kota industri terbesar di Negeri Pizza. Usaha itu dimulai oleh Sandro Pertini pada 25 April 1945 pagi.
Pria yang kelak menjadi Presiden Republik Italia puluhan tahun kemudian itu mengumumkan serangan umum pada pagi hari. Hasilnya, pabrik-pabrik berhasil diambil alih, termasuk salah satunya surat kabar terbesar Italia, Corriere della Sera, dicetak.
Koran tersebut terlanjur melekat sebagai alat propaganda rezim fasis. Oleh Pertini, koran itu dipakai untuk memberitakan kemenangan kaum pembebasan terhadap fasisme. Kemenangan tersebut membuka jalan bagi pasukan sekutu untuk merangsek ke Italia Utara sehingga kejatuhan rezim fasis semakin nyata.
Benito Mussolini sendiri sempat berupaya melarikan ke Spanyol lewat Swiss bersama pasangannya Clara Petacci. Namun, keduanya tertangkap pada 27 April 1945 di dekat Danau Como, Milan. Bersama dengan 15 orang pengikutnya, Benito Mussolini dan Clara Petacci dihukum mati dengan cara ditembak pada 28 April 1945.
Jenazah Mussolini dan Petacci beserta para petinggi rezim fasis kemudian dibawa ke Piazzale Loreto, Milan. Selama dalam perjalanan, warga meludahi belasan jenazah tersebut. Ribuan warga berkumpul untuk melemparkan batu ke arah jenazah yang digantung terbalik sebagai bentuk kekesalan sekaligus menakut-nakuti penganut fasisme bahwa perlawanan mereka akan berakhir sia-sia.
Seperti dimuat The Local, Selasa (25/4/2017), pembebasan Turin dan Milan itu menjadi titik balik penting dalam sejarah Italia. Pasukan sekutu kemudian berhasil tiba di Milan pada 1 Mei 1945 dan pasukan Nazi Jerman secara resmi menyerah satu hari kemudian.
Pembebasan tersebut kemudian membawa Italia kepada referendum konstitusi pada 2 Juni 1946 untuk menentukan arah negara ke depan. Hasilnya, Kerajaan Italia diakhiri dan terbentuklah Republik Italia yang secara resmi berdiri setelah adopsi konstitusi pada 1948.
Setahun setelah pembebasan, otoritas Italia pada 22 April 1946 menentukan tanggal 25 April sebagai hari libur nasional. Otoritas Italia mengeluarkan maklumat yang menyatakan, “Sebagai perayaan pembebasan seluruh wilayah Italia, 25 April 1946 ditetapkan sebagai hari libur nasional.”
Maklumat itu kemudian disahkan lewat Undang-Undang (UU) 260 yang disusun beberapa tahun kemudian. UU tersebut menyatakan perayaan 25 April sebagai sebuah hari libur nasional setiap tahunnya. Perdana Menteri terakhir Kerajaan Italia, Alcide De Gasperi, menandatangani UU 260 tersebut pada 27 Mei 1949.
(Wikanto Arungbudoyo)