PASCA-Perang Dunia II, satu hal penting yang dilakukan pihak Sekutu adalah membangun kembali negara yang porak-poranda akibat perang serta menggelar pengadilan militer untuk menghukum para penjahat perang. Sejarah dunia mencatat, hari ini pada 1946 adalah awal dari proses pengadilan penjahat perang di Jepang.
Terdapat perbedaan antara pengadilan Nuremberg untuk Nazi dengan pengadilan militer di Jepang. Pasalnya di Nuremberg terdapat empat jaksa utama yang mewakili Britania Raya, Prancis, Amerika Serikat, dan Uni Soviet. Sedangkan pengadilan di Tokyo hanya ada satu jaksa penuntut utama, Joseph B Keenan. Namun pada proses pengadilannya di Tokyo, China serta hakim dari Australia turut memiliki peran.
Sebagaimana dikutip dari History.com, Rabu (3/5/2017) pengadilan itu berakhir pada 4 November 1948 dengan 25 tersangka dari 28 orang yang diputuskan bersalah. Tiga tersangka lainnya, satu dinyatakan gila sedangkan dua lainnya meninggal dunia ketika menjalani proses pengadilan panjang tersebut.
Pada 12 November, pengadilan militer memutuskan untuk menjatuhi hukuman mati kepada tujuh pria. Di antara para tersangka yang dihukum mati terdapat Perdana Menteri Jepang para era perang Jenderal Hideki Tojo, Iwane Matsui yang terbukti mengatur pemerkosaan di Nanking serta Heitaro Kimuja yang dikenal memperlakukan tahanan perang dengan brutal.
Para tahanan yang lain rata-rata dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Pada 23 Desember 1948, semua penjahat perang yang dijatuhi hukuman mati dieksekusi di Tokyo.
Selain pengadilan yang berpusat di Tokyo, pengadilan terhadap penjahat perang Jepang juga diadakan di luar Negeri Sakura dengan 5.000 orang yang menjadi tersangka. Pada pengadilan tersebut setidaknya ada 900 orang yang dieksekusi mati.
Sayangnya Kaisar Hirohito tidak pernah dimejahijaukan terkait keterlibatannya dalam Perang Dunia II. Beberapa pengamat memandang ia seharusnya diadili atas persetujuannya secara diam-diam terhadap kebijakannya di Jepang selama era Perang Dunia II. Namun ia dilindungi oleh otoritas Amerika Serikat yang memandang Hirohito sebagai simbol persatuan dan konservatisme Negeri Sakura.
(Emirald Julio)