Dio saat dikonfirmasi mengaku tetap semangat sekolah karena motivasinya saat ini adalah menyelesaikan pendidikan hingga lulus kelas VI di SDN 1 Senden.
Dio berharap bisa melanjutkan pendidikan di jenjang SMP, namun ia menyatakan saat ini tidak terlalu yakin karena malu dengan kondisinya yang tidak normal.
Sementara untuk melanjutkan belajar di SLB, Dio enggan dan memilih tidak melanjutkan pendidikan jika bukan sekolah umum.
"Sebenarnya saya ingin untuk tetap sekolah, dan meneruskan pendidikan ke jenjang SMP juga SMA, namun dengan keadaan seperti ini saya terus terang malu. Tidak percaya diri," ucap Dio.
Menurut keterangan sang ibu, Yuliati Asifa Ningsih (36), penyakit Dio itu mulai diketahuinya sejak umur empat tahun, atau ketika duduk di bangku taman kanan-kanan (TK) kelas B (nol kecil).
Saat itu, tutur si ibu, Dio megikuti lomba lari yang diadakan sekolahnya diawasi guru. Namun ketika akan bertanding, tiba-tiba sang guru melarangnya dengan alasan sikap dan cara jalan-lari Dio tidak seperti yang lain, tidak normal.
"Setelah itu guru memberitahu hal ini kepada ibu. Semenjak saat itu saya langsung bawa ke dokter," tuturnya.