KISAH: Ketika Benjamin Franklin Menyamar sebagai Janda Tua

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis
Senin 08 Mei 2017 08:04 WIB
Benjamin Franklin sengaja menggunakan nama samaran agar tulisannya dimuat (Foto: The Vintage News)
Share :

SALAH satu pendiri negara Amerika Serikat (AS), Benjamin Franklin, memiliki sebuah cerita unik. Pria kelahiran Boston itu pernah sengaja menyamar sebagai janda tua agar tulisannya dapat dimuat oleh harian yang didirikan sang kakak, James Franklin.

Benjamin Franklin dikenal luas sebagai orang yang mencintai kebebasan berpendapat dan demokrasi. Pria kelahiran 17 Januari 1706 itu bahkan sudah mulai menjadi aktivis politik dan hak-hak sipil sejak usia remaja, tepatnya 15 tahun.

Di usia remaja, Benjamin Franklin sudah mempelajari trik-trik perdagangan serta mengembangkan pola pikir politik sendiri. Pada waktu hampir bersamaan, tepatnya pada 1721, James Franklin mendirikan “The New England Courant”, harian pertama di koloni Inggris yang independen.

Harian tersebut mempersilakan para pembacanya untuk mengirimkan tulisan ke redaksi dan banyak di antara surat serta tulisan dari pembaca yang dimuat. Para pembaca biasanya mengomentari isu-isu politik terkini serta mempertahankan kebebasan berpendapat.

Komentar-komentar di harian tersebut memukau Benjamin Franklin. Ia berharap agar opininya turut dimuat di harian sang kakak. Namun, James menolak untuk menaikkan komentar sang adik karena dianggap terlalu muda untuk berkecimpung dalam sengketa politik.

Benjamin Franklin jelas kecewa dengan keputusan sang kakak. Akan tetapi, ia dengan cepat berhasil menipu sang kakak dan dewan redaksi harian tersebut. Ia mengirim surat dengan nama samaran, Nyonya Silence Dogood, seorang janda paruh baya.

Surat dengan nama samaran tersebut langsung dimuat dan menjadi sangat populer di kalangan pembaca. Mereka kemudian mendukung penuh kebebasan berpendapat serta keadilan yang setara bagi kalangan borjuis dan masyarakat miskin.

Benjamin akhirnya mengakui tipus muslihat tersebut kepada kakaknya. Tentu saja James Franklin marah besar dan berupaya menghukumnya. Akan tetapi, James kemudian dihukum penjara pada 1722 karena menerbitkan kritik kepada Gubernur Massachusetts. Benjamin diizinkan untuk menggantikan posisi sang kakak sebagai pemimpin redaksi harian The New England Courant.

Kesempatan tersebut tidak disia-siakan. Benjamin Franklin menerbitkan komentar panjang dan kontroversial yang isinya membela kebebasan berpendapat sang kakak serta menyerang kebijakan ketat dan tidak adil tersebut. Di ujung tulisan, ia mengutip tulisan berjudul ‘Cato’s Letters’ yang dikarang oleh John Trenchard dan Thomas Gordon.

“Tanpa kebebasan dan pemikiran tidak akan ada yang namanya kebijaksanaan dan tidak ada yang namanya kebebasan publik tanpa kebebasan berpendapat,” tulis Benjamin Franklin, mengutip dari The Vintage News, Senin (8/5/2017).

Kendati demikian, Benjamin Franklin tetap takut menerima akibat dari tulisan tersebut. Ia lalu memutuskan untuk melarikan diri dari Massachusetts. Benjamin meninggalkan harian milik kakaknya dan memilih untuk mengakhiri masa magang meski bertentangan dengan keinginan James.

Benjamin Franklin lalu menetap di Philadelphia, Pennsylvania. Dari sana, ia memulai karier politik cemerlang yang membawanya menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh sepanjang sejarah Amerika Serikat.

(Wikanto Arungbudoyo)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya