KABUL – Dalam bidang pendidikan, Afghanistan dan Turki menjalin program pertukaran pelajar yang disebut Afghan-Turk CAG Educational (ATCE). Ada 16 sekolah di penjuru Afghanistan yang mengikuti program ini. Sebagian besar di antaranya mendapat aliran dana dari Gulen.
Belakangan, lebih dari selusin sekolah berafiliasi Gulen di Afghanistan ditutup oleh pemerintah. Kabarnya, penutupan itu terjadi setelah otoritas Afghanistan merancang sebuah kesepakatan untuk memberikan kendali atas sekolah-sekolah itu kepada Pemerintah Turki.
Para guru berkebangsaan Turki di sekolah Gulen di Afghanistan mengungkap, kedutaan Turki di Kabul telah menolak paspor mereka. Akibatnya, mereka jadi tidak bisa pergi ke mana pun.
“Sekolah kami memerangi radikalisasi dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan,” ujar Ketua ACTE, Numan Erdogan, yang tidak ada hubungannya dengan presiden Turki. Dia kecewa, sekolahnya harus ditutup karena perjanjian tersebut.
Sebagaimana diwartakan The Guardian, Rabu (31/5/2017), sejumlah pejabat negara Barat dan Afghanistan percaya, perjanjian itu merupakan bagian dari tawar-menawar (deal) politis. Mereka menduga kesepakatan itu ada hubungannya dengan pengasingan Wakil Presiden Afghanistan, Abdul Rashid Dostum ke Turki.
Perlu diketahui, Wapres Dostum terlibat pelanggaran HAM. Ia dituding menculik dan menyiksa saingan politiknya. Untuk itulah, dia diduga memberikan izin penutupan sekolah Gulen dengan syarat dirinya boleh menetap di bawah perlindungan pemerintahan Presiden Recep Tayyip Erdogan. Wapres Dostum sudah membantah tuduhan tersebut.
Bukti lain adanya kesepakatan antara pemerintah Turki dan Afghanistan terkait penutupan lusinan sekolah Gulen ialah kemunculan rancangan memorandum untuk memutus program ATCE. Sepekan kemudian, Dostum terbang ke Turki.