JAKARTA - Taman-taman dan ruang publik di Kabupaten Purwakarta umumya dihiasi patung macan yang sedang mengaum. Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi menjelaskan, simbol tersebut sebenarnya tak ada hubungan dengan tudingan dirinya sebagai penganut keyakinan Sunda Wiwitan.
Patung macan di ruang-ruang publik di Jawa Barat, kata Dedi, berasal dari mitologi Sunda, yakni kisah Prabu Siliwangi yang bertapa ke hutan dan moksa atau menghilang. Masyarakat Sunda percaya bahwa Prabu Siliwangi tidak meninggal melainkan berubah wujud menjadi seekor macan.
"Dalam mitologi itu, masyarakat Sunda percaya Prabu Siliwangi tidak meninggal," kata Dedi dalam tayangan iTalk, iNews TV, Rabu (7/6/2017).
Dedi melanjutkan, patung sebagai bagian dari arsitektur kota sudah umum digunakan di semua daerah. Sehingga sebenarnya tak perlu dipermasalahkan banyaknya patung macan di ruang publik Purwakarta.
"Apa sih masalahnya dengan patung? Hanya mungkin mau ngangkat isu saya, dari segi pelayanan publik susah, dari pembangunan susah, ya sudah patung saja deh yang diangkat," ujarnya.
Terlebih patung macan pun digunakan sebagai simbol kekuatan militer. "Kodam III Siliwangi juga ada (patung macan), koramil-koramil juga ada, Polda juga punya patung Lodaya. Kalau saya dinilai Sunda Wiwitan karena patung, ya berarti Koramil juga Sunda Wiwitan," kata Dedi.
(Arief Setyadi )