PADA 23 Juni 1956, 99,95% rakyat Mesir memilih Gamal Abdel Nasser sebagai presiden pertama Republik Mesir. Nasser, yang menggulingkan monarki Mesir melalui kudeta militer pada 1952, adalah calon presiden tunggal. Pada pemilu yang sama, konstitusi baru yang diusung Nasser membentuk Mesir menjadi negara satu partai, yaitu Sosialis, dengan Islam menjadi agama resmi. Konstitusi ini pun disetujui oleh 99,8% pemilih.
Gamal Abdel Nasser lahir di Alexandria pada 1918. Saat muda, ia berpartisipasi dalam berbagai demonstrasi menentang pemerintahan Inggris di Mesir. Setelah sekolah menengah, Nasser belajar di sekolah hukum selama beberapa bulan dan kemudian bergabung dengan Akademi Militer Kerajaan. Pada 1938, dia lulus sebagai Letnan Kedua. Selama bertugas di Sudan pada Perang Dunia II, Nasser membantu mendirikan organisasi rahasia revolusioner, Free Officers. Para anggotanya bertekad menggulingkan kekuasaan Kerajaan Mesir dan mengusir Inggris. Pada 1948, Nasser bertugas sebagai mayor pada perang Arab-Israel pertama dan terluka.
Pada 23 Juli 1952, Nasser memimpin 89 anggota Free Officers dalam kudeta militer yang menggulingkan rezim Raja Farouk. Pemerintahan baru pun dibentuk oleh Dewan Komando Revolusi yang dipimpin Nasser dengan pemimpinnya Mayor Jenderal Muhammad Naguib. Pada 1954, Nasser muncul dari balik layar. Ia menggeser Naguib dari tampuk kekuasaan dan memproklamasikan dirinya sebagai perdana menteri Mesir. Selama dua tahun berikutnya, Nasser menjadi pemimpin yang efektif dan populer. Ia mengumumkan secara resmi bahwa Mesir menjadi negeri Arab sosialis serta tidak bertalian lagi dengan sistem komunis maupun kapitalis yang diusung dunia semasa Perang Dingin. Pada 23 Juni 1956, rakyat mesir secara mutlak menyetujui konstitusi baru dan kepresidenan Nasser.
Satu bulan kemudian, Presiden Nasser menghadapi krisis besar saat Amerika Serikat (AS) dan Inggris Raya memutuskan membatalkan pendanaan mereka untuk pembangunan bendungan besar di Sungai Nil. Penyebabnya, kala itu Mesir menyetujui perjanjian dengan Rusia. Sebagai respons, Nasser menasionalisasi Terusan Suez yang dimiliki Inggris dan Prancis, dan bertekad memakai uang masuk (tol) untuk membiayai proyek bendungan tersebut.
Mengutip History, Jumat (23/6/2017), pada akhir Oktober 1956, Israel, Inggris dan Prancis menyerang Mesir dalam operasi militer gabungan serta menduduki Terusan Suez. Tetapi tekanan dari Rusia Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) memaksa ketiga negara itu untuk mundur. Terusan Suez pun kembali ke tangan Mesir pada 1957.
Episode ini meningkatkan pamor Nasser di dunia Arab. Pada 1958 ia mengawasi proses penyatuan Mesir dan Suriah sebagai Republik Arab Bersatu serta menjadi presidennya. Nasser bermimpi menyatukan dunia Arab ke dalam Republik Arab Bersatu. Namun pada 1961 Suriah memutuskan keluar dari proses tersebut usai kudeta militer dan meninggalkan Mesir. Dari 1962 hingga 1967, Mesir terlibat dalam perang saudara di Yaman sebagai kelompok anti-kerajaan.
Pada 1967, ketegangan antara Arab-Israel meningkat sehingga mendorong Mesir untuk mengerahkan tentaranya serta menuntut pasukan perdamaian PBB hengkang dari Semenanjung Sinai. Mesir dan lima negara Arab lainnya bersiap menyerang Israel. Tetapi Israel unggul lebih dulu, dan memulai Perang Enam Hari dengan menghancurkan kekuatan udara Mesir pada 5 Juni. Koalisi Mesir dan lima negara Arab kalah, tentara Israel lalu menduduki Semenanjung Sinai dan Terusan Suez.
Setelah bencana militer tersebut, Nasser berusaha mengundurkan diri dari jabatannya. Tetapi berbagai demonstrasi dan pemungutan suara Parlemen Mesir menyarankan ia tetap bertugas di kantor kepresidenan.
Setelah Perang Enam Hari, Nasser menerima bantuan militer dan ekonomi dari Rusia (dulu masih bernama Uni Soviet), berkompromi dengan status Mesir sebagai negara non-blok, seperti Josip Broz Tito dari Yugoslavia atau Jawaharlal Nehru dari India.
Pada Juli 1970, Bendungan Aswan selesai dibangun berkat bantuan Rusia. Proyek ini berhasil mendongkrak perekonomian Mesir. Dua bulan kemudian, Nasser meninggal dunia karena serangan jantung di Kairo. Ia digantikan oleh Anwar Sadat, sesama anggota Free Officer.
Selain kekalahan militernya, Nasser konsisten menjadi pemimpin populer selama 18 tahun masa berkuasanya. Kebijakan ekonomi dan reformasi menaikkan kualitas hidup warga Mesir. Selama masa kepemimpinannya juga, kaum wanita Mesir mendapatkan berbagai hak. Naiknya Nasser ke pucuk kepemimpinan mengakhiri 2.300 masa kependudukan Mesir oleh orang asing. Dan kebijakan mandirinya memberikan rasa hormat pada Nasser, tidak hanya dari dalam Mesir tetapi juga seluruh dunia.
(Rifa Nadia Nurfuadah)