Pada 1967, ketegangan antara Arab-Israel meningkat sehingga mendorong Mesir untuk mengerahkan tentaranya serta menuntut pasukan perdamaian PBB hengkang dari Semenanjung Sinai. Mesir dan lima negara Arab lainnya bersiap menyerang Israel. Tetapi Israel unggul lebih dulu, dan memulai Perang Enam Hari dengan menghancurkan kekuatan udara Mesir pada 5 Juni. Koalisi Mesir dan lima negara Arab kalah, tentara Israel lalu menduduki Semenanjung Sinai dan Terusan Suez.
Setelah bencana militer tersebut, Nasser berusaha mengundurkan diri dari jabatannya. Tetapi berbagai demonstrasi dan pemungutan suara Parlemen Mesir menyarankan ia tetap bertugas di kantor kepresidenan.
Setelah Perang Enam Hari, Nasser menerima bantuan militer dan ekonomi dari Rusia (dulu masih bernama Uni Soviet), berkompromi dengan status Mesir sebagai negara non-blok, seperti Josip Broz Tito dari Yugoslavia atau Jawaharlal Nehru dari India.
Pada Juli 1970, Bendungan Aswan selesai dibangun berkat bantuan Rusia. Proyek ini berhasil mendongkrak perekonomian Mesir. Dua bulan kemudian, Nasser meninggal dunia karena serangan jantung di Kairo. Ia digantikan oleh Anwar Sadat, sesama anggota Free Officer.
Selain kekalahan militernya, Nasser konsisten menjadi pemimpin populer selama 18 tahun masa berkuasanya. Kebijakan ekonomi dan reformasi menaikkan kualitas hidup warga Mesir. Selama masa kepemimpinannya juga, kaum wanita Mesir mendapatkan berbagai hak. Naiknya Nasser ke pucuk kepemimpinan mengakhiri 2.300 masa kependudukan Mesir oleh orang asing. Dan kebijakan mandirinya memberikan rasa hormat pada Nasser, tidak hanya dari dalam Mesir tetapi juga seluruh dunia.
(Rifa Nadia Nurfuadah)