Bocah liar itu pun senang berada dalam keadaan bugil dan tidak takut dengan cuaca dingin. Karena itulah para peneliti memiliki teori Victor terbiasa dengan kondisi di alam liar yang keras.
Selama diteliti, para ilmuwan yang terlibat terus berusaha mengajarkannya bahasa dan tata krama agar dapat mengembalikannya ke masyarakat dan menjadi sosok yang “normal”. Sayangnya usaha itu tidak banyak membuahkan hasil mengingat ia berperingai agresif, hiperaktif dan tidak tertarik untuk belajar.
Melihat tak banyak perkembangan, para peneliti akhirnya menilai bocah liar itu tidak dapat kembali ke masyarakat. Ia pun dibiarkan berkeliaran di Institut Nasional Tunarungu hingga menjadi tontonan bagi warga Paris.
Nasibnya yang terlunta-lunta akhirnya berubah ketika seorang mahasiswa kedokteran, Jean Marc Gaspard Itard, memutuskan untuk “mengadopsinya”. Nama Victor pun diberikan kepada bocah itu oleh Itard karena selama ini sebenarnya ia tak pernah memiliki nama dan selalu dipanggil sebagai ‘Anak Serigala’.
Victor berhasil belajar beberapa kata dan mulai terbiasa dengan kebiasaan sosial di bawah pengurusan Itard. Tapi ia tidak tetap tidak bisa kembali ke masyarakat secara sepenuhnya. Victor hidup dengan nyaman hingga 1828 saat ia mengembuskan napas terakhirnya pada usia 40 tahun akibat paru-paru basah.
(Emirald Julio)