OKEZONE STORY: Seakan Tahu Maut Mengintai, Korban Selamat Titanic Ini Siapkan Pemakamannya Sendiri

Rufki Ade Vinanda, Jurnalis
Selasa 08 Agustus 2017 08:00 WIB
Tenggelamnya kapal Titanic. (Foto: The Vintage News)
Share :

HAMPIR seluruh orang di dunia ini mengetahui pasangan fenomenal Jack dan Rose yang menjadi penumpang di kapal bersejarah RMS Titanic. Kapal asal Inggris yang berlayar dari Southampton dan tak pernah sampai ke tempat tujuan itu merupakan salah satu kapal yang terbesar dan terindah yang pernah dibangun di masanya.

Dengan panjang 270 meter, Titanic dioperasikan oleh 913 kru dan sanggup menampung 2.243 penumpang. Setelah lima hari berlayar, kapal yang mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat itu menabrak sebuah gunung es dan kemudian tenggelam di Laut Atlantik Utara. Lebih dari 1.500 penumpang tewas bersama tenggelamnya Titanic. Hanya 700 orang selamat dari tragedi itu.

Banyak dari para penumpang yang selamat menceritakan kisah dan kengerian yang mereka rasakan. Seorang penumpang selamat, Jennie Louise Hansen, memiliki kisah menarik untuk diceritakan. Jennie lahir pada 20 Desember 1866 di Racine, Amerika Serikat (AS). Pada 1912, Jennie melakukan perjalanan ke Denmark untuk menemani suaminya, Claus Peter Hansen.

Dalam perjalanannya kembali ke AS, adik ipar Jennie, Henrik turut serta bersama mereka menaiki Titanic. Namun di antara ketiganya, hanya Jennie satu-satunya yang berhasil kembali ke rumah. Uniknya. sebelum melakukan perjalanan dengan Titanic, Jennie telah memiliki firasat buruk bahwa dirinya tidak akan berhasil membuat perjalanan dari Eropa.

Berbekal firasat buruknya tersebut, Jennie kemudian membuat perencanaan tentang pemakamannya sendiri dan hal ini ia sampaikan kepada adik kandungnya. Segala pikiran buruk Jennie ini diketahui merupakan bagian dari tragedi masa lalu yang pernah dialaminya. Sekira 28 tahun sebelum tragedi Titanic terjadi, Jennie merupakan seorang koki pastry di Blake Opera House and Hotel.

Pada 1884, tempat Jennie bekerja itu dilanda kebakaran besar. Jennie berhasil selamat dalam kejadian tersebut setelah turun dengan lift sesaat sebelum api menghancurkan tali kawat yang menopang operasional lift. Beberapa bulan sebelumnya, Jennie juga sempat ditemukan tak sadarkan diri di dapur akibat asap berbahaya yang muncul di dapur. Insiden Titanic menjadi tragedi mengerikan terakhir menimpa Jennie yang membuatnya kehilangan suami dan adik iparnya.

"Saat itu kami tengah tertidur di ranjang dan segera bangun bergegas lari ke pintu kabin. Setelah itu, aku coba membangunkan Peter dan mengatakannya bahwa sesuatu telah terjadi. Tapi Peter tetap percaya bahwa tidak ada hal penting yang terjadi. Aku membuka pintu dan bertanya pada orang-orang tentang apa yang terjadi. Tapi mereka hanya menyuruhku untuk kembali tidur," terang Jennie sebagaimana dikutip dari The Vintage News, Selasa (8/8/2017).

Menuruti perkataan orang-orang, Jennie pun kembali ke tempat tidurnya dengan tidak tenang. Ia kemudian kembali mengecek bagian luar dan menemukan para penumpang kelas bawah naik ke anjungan.

"Saya melihat beberapa kru kapal mengenakan jaket pelampung dan orang-orang lari berhamburan. Saya kemudian bertanya pada seorang petugas dan ia hanya meminta saya untuk segera memakai jaket pelampung dan keluar," imbuh Jenni

Sebelum keluar, Jennie kembali untuk memberitahu Peter dan Henrik. Pada saat yang sama sebuah suara tembakan terdengar dari bagian luar. Setelah keluar, Jennie menemukan dek kapal telah penuh dengan orang-orang. Beruntung, Peter berhasil membuat Jennie mendapatkan satu kursi di sekoci nomor 11. Perkataan terakhir suaminya adalah bahwa harus ada satu orang di antara mereka yang bertahan untuk menceritakan kisah ini pada keluarga mereka di rumah.

"Petugas tak membiarkan Peter dan Henrik pergi bersamaku. Bahkan ketika saya mencium Peter seorang petugas menarik saya dan melemparkan saya ke sekoci. Hal itu membuat kepala saya terbentur dan terluka. Terdapat sekira 40 perempuan di sekoci yang saya naiki. Ketika sekoci diturunkan dengan menggunakan tali, hal mengerikan terjadi. Seseorang di atas kapal melemparkan seorang bayi, sayangnya bayi itu tidak jatuh ke sekoci tapi langsung ke air laut dan tenggelam," papar Jennie dalam kisahnya.

Jennie menambahkan, ketika sekoci berhasil diturunkan, ia masih bisa melihat suami dan adik iparnya berdiri gagah di atas aspal. Ia juga menjadi saksi mata bagaimana kapal megah tersebut tenggelam di kedalaman lautan membawa orang-orang yang Jennie cintai.

"Aku melihat keduanya berdiri di kapal saat sekoci berhasil diturunkan. Itu adalah pemandangan paling menyedihkan yang pernah saya lihat seumur hidup saya. Tak lama, kapal itu kemudian perlahan tenggelam. Terdengar suara teriakan dan jeritan orang-orang. Pemain musik saat itu tetap memainkan lagu 'Nearer My God to Youre.' Malam itu sesungguhnya adalah perjalanan yang indah karena laut begitu tenang. Tapi saya harus menyaksikan Titanic meledak dan melihat bagian terakhir kapal hingga akhirnya benar-benar tenggelam," tutup Jennie.

Jennie kemudian berhasil tiba di New York dan dirawat di sebuah rumah sakit. Ia dinyatakan menderita trauma mengerikan hingga merusak sistem syarafnya. Akibatnya, Jennie bahkan tidak mampu meneteskan air mata meskipun ia mengalami kesedihan yang mendalam. Bahkan kakak Jennie, Thomas sempat mengurungnya di kamar akibat kondisi kesehatan mentalnya yang memburuk.

Setelah berhasil bangkit, Jennie kemudian menikah dengan seorang pria yang 19 tahun lebih muda dengannya bernama Elmer Emerson. Ia meninggal di usia 85 tahun pada 1952 karena penyakit bronkitis dan dimakamkan di Racine.

(Rufki Ade Vinanda)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya