TEHERAN – Pada Minggu 13 Agustus 2017, Parlemen Iran mengadakan pemungutan suara terkait peningkatan dana dalam anggaran belanja program rudalnya. Dilaporkan, hampir semua anggota parlemen setuju dengan peningkatan tersebut.
Sebagaimana dikutip dari Al Jazeera, Senin (14/7/2017), 240 dari total 244 anggota Parlemen Iran menyetujui untuk mengalokasikan dana sekira Rp6,9 triliun dalam pengembangan program rudal serta meningkatkan operasi pasukan paramiliter di luar negeri.
Disetujuinya rancangan anggaran belanja negara itu disebut untuk melawan aktivitas Amerika Serikat di wilayah Timur Tengah. Bahkan beberapa anggota Parlemen Iran meneriakkan “Mati terhadap Amerika” usai hasil pemungutan suara itu dibacakan.
“Amerika harus tahu ini merupakan langkah pertama kami,” ujar Ketua Parlemen Iran, Ali Larijani, usai ia mengumumkan hasil pemungutan suara.
Peningkatan anggaran belanja militer Iran ini disinyalir sebagai bentuk respons Teheran terhadap sanksi yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat pada awal Agustus 2017. Sanksi itu diberikan setelah Iran berhasil melakukan uji coba peluncuran roket yang disebut dapat mengirim satelit ke orbit bumi.
Iran geram dengan sanksi tersebut dengan menegaskan bahwa program rudalnya tidak melanggar resolusi PBB 2015. Bila mengacu dengan resolusi tersebut, Iran hanya dilarang untuk tidak melakukan aktivitas terkait pengembangan rudal balistik yang dapat membawa senjata nuklir. Iran mengklaim rudal yang mereka miliki dan kembangkan saat ini bukanlah rudal seperti itu.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, mengatakan kepada para anggota Parlemen bahwa pemerintah beserta kementerian luar negeri mendukung rancangan anggaran pembelanjaan militer tersebut. Araqchi menyebut rancangan itu dibentuk dengan bijaksana sehingga tidak melanggar kesepakatan nuklir serta tidak menjadi alasan untuk pihak yang menentang.
(Emirald Julio)