Ia menilai pemahaman literasi media sosial berkaitan dengan perkembangan teknologi dan informasi. Usulan kurikulum ini tak terbatas pada sektor formal, melainkan juga nonformal.
Astari menambahkan, berdasarkan pengalamannya di lapangan, generasi muda justru lebih melek literasi medsos ketimbang orang tua. Ia menyebut generasi Z justru sudah mengerti melakukan verifikasi terhadap suatu informasi, apakah itu tergolong hoax atau tidak.
"Tapi kalau ibu-ibu rumah tangga dan profesional justru mereka yang mudah terpengaruh hoax," ungkap Astari.
Selain rendahnya pemahaman soal literasi medsos, faktor ideologi juga memengaruhi seseorang untuk menerima hoax. Namun, faktor tersebut tetap tidak bisa dilepaskan dari pemahamannya terhadap literasi medsos.
"Karena ketika sudah cerdas di medsos, preferensi ideologi tidak akan membuat Anda tertutup matanya. Kunci utamanya tetap di literasi medsos untuk memecah sekat SARA (suku, agama, ras, antargolongan) dan ideologi," terangnya.