Soal Sindikat Saracen, Ketum PBNU: Kalau Bikin Perang Saudara, Itu Sudah Teror!

Syaiful Islam, Jurnalis
Minggu 27 Agustus 2017 01:38 WIB
Ketum PBNU KH Said Aqil SIradj (Foto: Okezone)
Share :

SURABAYA – Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siradj menegaskan jika ada pihak yang melakukan suatu tindakan dan bedampak pada kegaduhan, perang saudara bahkan menghalalkan segala cara itu termasuk tindakan teror. Pernyataan itu disampaikan Kiai Said saat merespons tentang sindikat jual beli ujaran kebencian (Saracen) di media sosial.

Said menjelaskan, Kelompok tersebut membuka peluang aksi teror. Bahkan Saracen sudah terindikasi terorisme. Saracen bikin konflik dan perang saudara.

“Kalau orang sudah mau bikin gaduh, bikin kita konflik, perang saudara, membuat orang saling menghalalkan darah, itu sudah teror,” ungkapnya Sabtu 26 Agustus 2017.

 (Baca: Tangkal Hoax, Harus Terjun Langsung ke Masyarakat Jelaskan Literasi Cerdas Bermedsos)

Selain itu, Kiai asal Cirebon itu mensinyalir Saracen memiliki motif politik. Ia juga mengira Saracen juga sangat berperan pada proses Pilkada. Untuk itu jelang Pilkada serentak 2018 semua pihak harus waspada. Said menjelaskan, kelompok tersebut membuka peluang aksi teror. Bahkan Saracen sudah terindikasi terorisme.

“Pasti, itu sudah pasti (ada kepentingan politik). Dan itu (Saracen) sangat berpengaruh pada proses pilkada,” terang Said.

 (Baca juga: Menristek: Sindikat Hoaks seperti Saracen Harus Dilawan dengan Teknologi)

Said menjelaskan, Kelompok tersebut membuka peluang aksi teror. Bahkan Saracen sudah terindikasi terorisme. Saracen bikin konflik dan perang saudara.

Seperti diketahui, Satgas Patroli Siber Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri berhasil mengungkap Saracen, kelompok pelaku ujaran kebencian terhadap SARA (suku, agama, ras dan antargolongan). Kelompok Saracen memiliki grup facebook Saracen News, Saracennewscom dan Siber Team.

(Ulung Tranggana)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya