Minimnya kepercaayaan kepada Andi, menurutnya, di latar belakangi melambatnya perekonomian Riau. Walaupun sebentar lagi masaa jabatan berakhir, warga mengeluhkan minimnya pembangunan di Riau sejak dipimpin Andi hampir kurang empat tahun. Arsyadjuliandi Rachman, dinilai selalu ketakutkan menggunakan anggaran sejak Annas Maamun terjerat kasus korupsi.
"Masyarakat kecewa atas pembangunan di Riau sejak dipimpin Andi Rahman. Ini realita. Hasil survei juga sudah menunjukan itu (elektabilitas Andi menurun). Masyarakat membutuhkan figur yang bisa memajukan daerahnya dan tentunya tidak terlibat masalah hukum terutama kasus korupsi," ujarnya.
Karena kurang diminatinya sosok yang diusung, Golkar harus mencarikan pendamping Andi figur yang menjual. "Sosok wakil nantinya harus kuat, harus dikenal rakyat. Karena jika hanya mengandalkan Andi Rahman, saya yakin Golkar akan kalah di Riau," ucap Saiman.
Sebelumnya, pada Agustus 2017, Golkar pernah melakukan survei internai dan juga menggunakan dua lembaga survei yakni Lingkaran Survey Indonesia (LSI) dan Indo Barometer. Survei dilakukan untuk mencari kandidat dari Partai Golkar di Pilkada Riau.
Hasil survei menunjukan kandidat terkuat adalah mantan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Lukman Edy yang merupakan sosok di luar Golkar. Di posisi kedua adalah Ketua DPD II Golkar Pelalawan, HM Harris, disusul Bupati Siak Syamsuar juga Ketua DPD II Partai Golkar Siak. Sementara Andi hasilnya tidak memuaskan.
(Salman Mardira)