JAUH sebelum kapal Titanic tenggelam di Samudera Atlantik, ada kapal mewah lainnya yang juga karam. Peristiwa ini terjadi 163 tahun yang lalu. Kapal mewah Arktik tenggelam setelah terlibat kecelakaan dengan kapal lainnya.
Arktik adalah kapal mewah yang dibangun pada 1850. Dari empat kapal uap yang dibuat oleh Collins Line, Arktik merupakan yang paling mewah dan paling terkenal. Ia dirancang untuk melintasi Samudera Atlantik. Kapal ini memiliki lambung kayu dan bisa mencapai kecepatan hingga 13 knot per jam. Pada zaman itu, kecepatan Arktik sangatlah mengesankan
Pada 20 September 1854, Arktik meninggalkan Liverpool, Inggris, untuk melakukan perjalanan ke Amerika Utara. Kapal terbesar dan paling tenah itu menempuh perjalanan dengan lancar. Namun, tujuh hari kemudian, perjalanan mereka terganggu. Kabut tebal menutupi langit di perairan Newfoundland, Kanada.
Menghadapi situasi berbahaya, kapten kapal malah melakukan tindakan yang terbilang nekat. Di tengah terbatasnya jarak pandang, sang kapten, James Luce, tak melakukan pengamanan biasa yang seharusnya dilakukan saat kabut datang. Ia tidak memperlambat laju Arktik. Bahkan, Luce juga tidak membunyikan klakson kapal selama berjalan di dalam kabut. Padahal, tabrakan dengan kapal lain sangat rentan terjadi saat kondisi seperti itu. Penjagaan ekstra juga tak diberlakukan di Arktik ketika itu.
Hal yang ditakuti benar terjadi. Pada 27 September 1854 pukul 12.15 waktu setempat, Arktik menabrak kapal uap yang terbuat dari besi, yakni Vesta. Ketika itu, Vesta tengah dikendarai oleh Kapten Alphonse Puchesne.
Kecelakaan yang merupakan kesalahan Arktik itu tak langsung membuat kedua kapal tenggelam. Dibandingkan Arktik, Vesta terlihat mengalami kerusakan yang lebih parah. Luce dan awak kapal pun berusaha mempertanggungjawabkan perbuatannya. Mereka membantu Vesta karena yakin bahaya akan segera terjadi. Namun, tak ada yang menyadari bahwa kapal Arktik juga mengalami kerusakan hebat.
Ketika kru mengetahui bahwa kapal Vesta sudah mulai tenggelam, Luce memutuskan untuk membawa kapal itu ke daratan terdekat. Mereka berharap dapat menyelamatkan penumpang dengan melakukan hal tersebut. Namun, seluruh rencana mereka gagal karena mesin kapal Arktik mati. Posisi mereka saat itu masih jauh dari daratan.
Kerusakan yang dialami Arktik lama-kelamaan semakin terlihat. Kapal itu mulai tenggelam. Penyelamatan pun segera dilakukan. Kru Arktik berusaha memindahkan penumpang ke sekoci. Namun, sekoci yang tersedia hanya dapat menampung setengah dari jumlah penumpang.
Keputusan dibuat saat itu, penumpang perempuan dan anak-anak akan diselamatkan terlebih dahulu. Awak kapal dan penumpang laki-laki yang lebih sehat akan dipindahkan terakhir. Sementara orang-orang yang tak mendapat ruang di sekoci akan berjuang membangun rakit darurat.
Namun, semua rencana itu tak dapat dilakukan. Kepanikan terjadi karena air semakin merendam kapal. Kru Arktik yang putus asa mengambil sekoci dari wanita dan anak-anak. Mereka berusaha menyelamatkan diri dari bahaya tersebut. Ketika salah satu perwira tinggi kapal mencoba menghentikan tindakan ini, ia malah dibunuh kru kapal.
Sebanyak 70 orang tersisa di kapal. Mereka memadati rakit darurat ketika Arktik tenggelam. Dari 70 orang itu, kabarnya hanya satu orang yang dapat bertahan dan selamat. Kebanyakan dari mereka tidak dapat meninggalkan kapal dan tenggelam bersama Arktik.
Kapal mewah itu baru benar-benar tenggelam empat jam setelah tabrakan. Vesta yang pada awalnya tampak mengalami kerusakan fatal masih terus terapung berkat sekat kedap airnya. Kapal besi itu baru tenggelam saat tiba di Pelabuhan St John's, Newfoundland.
Peristiwa ini menewaskan 322 orang.
Dari enam sekoci yang digunakan untuk meninggalkan Arktik, hanya dua sekoci yang berhasil mencapai pantai Newfoundland. Penumpang di sekoci lainnya dijemput oleh kapal uap yang lewat. Tiga sekoci dinyatakan hilang tanpa bekas.
Salah satu korban yang diselamatkan dalam peristiwa ini adalah Kapten Luce. Ia berhasil kembali ke permukaan setelah tenggelam bersama Arktik.
Terbatasnya fasilitas membuat berita tenggelamnya Arktik tidak tersebar luas. Berita kecelakaan ini baru diketahui masyarakat di New York, Amerika Serikat, dua minggu setelah kejadian.
Publik sangat berduka atas peristiwa ini. Namun, kesedihan itu berubah menjadi kemarahan ketika mengetahui peristiwa lengkap tenggelamnya kapal itu. Sebagian masyarakat kecewa dengan tindakan pengecut para kru kapal.
Meski ada seruan dari masyarakat untuk menyelidiki kasus ini, pemerintah memutuskan untuk tidak melakukannya. Tak ada pihak yang diminta bertanggung jawab atas terenggutnya nyawa ratusan orang ini.
Setelah peristiwa ini, Kapten Luce memutuskan pensiun dari dunia laut. Beberapa kru yang masih hidup memilih untuk tidak kembali ke AS. Sementara Collins Line melanjutkan layanan trans-Atlantik hingga kerugian maritim membuat mereka bangkrut pada 1858. (DJI)
(Rifa Nadia Nurfuadah)