SEOUL – Korea Utara (Korut) sempat mengeluarkan ancaman keras yang mengklaim akan menembak jatuh pesawat bomber Amerika Serikat (AS) walau berada di luar ruang udara Pyongyang. Namun Korea Selatan (Korsel) memandang militer Korut belum mampu melakukan hal tersebut.
JoongAng Daily mewartakan, pejabat Korsel, Lee Cheol-uoo, menjelaskan mengenai jalur terbang bomber supersonik milik AS baru-baru ini di Semenanjung Korea. Ia mengklaim, pesawat tersebut tidak berhasil dideteksi oleh radar militer Korut.
Baca juga: Makin Panas! Korut Mobilisasi Pesawat Tempur Setelah Pembom AS Bermanuver
Sebagaimana dikutip dari UPI, Rabu (27/9/2017) pernyataan Lee itu disampaikan usai ia mengadakan pertemuan dengan badan intelijen Korsel atau National Intelligence Service (NIS).
Donga Ilbo mewartakan, pesawat B-1B sudah terbang selama 48 jam di sekitar wilayah Semenanjung Korea. Namun pesawat bomber itu tidak mendapatkan respons atau ancaman dari Korut yang ternyata belum meningkatkan pertahanan di pantai timurnya.
Lee mengatakan, AS mengungkapkan rute terbang B-1B karena Korut sama sekali tidak sadar dengan operasi pesawat supersonik itu. Lee mengakui bahwa akhir-akhir ini Korut terus bertindak dengan hati-hati di perbatasannya dengan para tentaranya yang diperintahkan untuk terus melaporkan situasi terlebih dahulu dibandingkan langsung mengambil tindakan.
Baca juga: Ngeri! Jika Perang AS-Korut Pecah, 20 Ribu Orang di Korsel Terbunuh Setiap Harinya
“Karena risiko konflik yang tak disengaja, nampaknya peraturan itu dibuat,” jelas Lee terkait kebijakan militer Korut di wilayah perbatasan.
Wakil Ketua Staf Gabungan Korsel, Shin Won-shik, memberikan sindiran terkait konteks “deklarasi perang” Korut. Ia menyebut, hal itu dilakukan Korut ketika mereka mengalami kekurangan sumber daya manusia di militernya.
Baca Juga: Simak! Babak Baru Seteru AS-Korut, dari Saling Ancam hingga Deklarasi Perang
Kabar mengenai deklarasi perang itu pertama kali disampaikan oleh Korut melalui menteri luar negerinya, Ri Yong-ho. Ia mengklaim pernyataan Presiden Donald Trump di Sidang Umum PBB serta cuitannya di Twitter sebagai pernyataan perang.
“Sejak AS mengumumkan perang terhadap negara kami, kami memiliki hak untuk melakukan tindakan penanggulangan, termasuk hak untuk menembak jatuh pembom strategis AS bahkan ketika mereka (pesawat B1-B) tidak berada di dalam wilayah udara negara kami,” tegas Ri yang disinyalir hanyalah sesumbar belaka.
(Emirald Julio)