JAKARTA - Aktivitas Gunung Agung di Karangasem, Bali semakin meningkat seiring statusnya menjadi Awas. Sejak kemarin malam hingga tadi pagi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat, 565 kali gempa melanda gunung tertinggi di Pulau Bali tersebut.
Sampai saat ini rinciannya adalah 263 kali gempa terjadi pada Selasa 26 September 2017 antara pukul 18.00 hingga 24.00 Wita. Sedangkan pada Rabu (27/9/2017) sejak pukul 00.00 hingga 06.00 Wita tadi terjadi gempa 302 kali.
Mungkin belum banyak yang mengetahui sejarah dari Gunung Agung itu sendiri dan bagaimana kepercayaan masyarakat Bali tentang Gunung Agung.
Dihimpun dari berbagai sumber, Gunung Agung adalah gunung tertinggi di pulau Bali dengan ketinggian 3.031 mdpl. Gunung ini terletak di kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali, Indonesia. Pura Besakih, yang merupakan salah satu Pura terpenting di Bali, terletak di lereng gunung ini.
Gunung Agung adalah gunung berapi tipe stratovolcano, gunung ini memiliki kawah yang sangat besar dan sangat dalam yang kadang-kadang mengeluarkan asap dan uap air. Dari Pura Besakih gunung ini nampak dengan kerucut runcing sempurna, tetapi sebenarnya puncak gunung ini memanjang dan berakhir pada kawah yang melingkar dan lebar.
Dari puncak gunung Agung kita dapat melihat puncak Gunung Rinjani yang berada di pulau Lombok di sebelah timur, meskipun kedua gunung tertutup awan karena kedua puncak gunung tersebut berada di atas awan, kepulauan Nusa Penida di sebelah selatan beserta pantai-pantainya, termasuk pantai Sanur serta gunung dan danau Batur di sebelah barat laut.
Kepercayaan Masyarakat
Masyarakat Hindu Bali percaya bahwa Gunung Agung adalah tempat bersemayamnya dewa-dewa, dan juga masyarakat mempercayai bahwa digunung ini terdapat istana dewata. Oleh karena itu, masyarakat bali menjadikan tempat ini sebagai tempat kramat yang disucikan.
Mitos lain menyebut, para dewa menganggap bahwa kondisi Bali tidak cukup stabil sehingga mereka meletakkan Gunung Agung sebagai pancangnya. Banyak warga Bali pun menganggap bahwa gunung adalah pusar Bumi.
Salah seorang tokoh masyarakat Bali yang juga merupakan Anggota DPD RI, IGede Pasek Suardika menjelaskan bahwa bagi masyarakat Bali secara kosmologis dan religi, Gunung Agung merupakan satu dari beberapa gunung yang dianggap memiliki peran yang sangat penting.
"In karena banyaknya tempat suci di kawasan (Gunung Agung) tersebut," ujarnya kepada Okezone.
Selain itu, masyarakat di sana percaya bahwa gunung dan laut adalah sumber energi. Baik energi kepentingan hidup duniawi maupun energi kepentingan hidup spiritual.
"Hampir di semua tempat yang khusus pasti ada ritual. Baik itu Pujawali, upacara Mulang Pekelem, dan lain-lain," jelasnya.
Letusan-letusan
Letusan gunung Agung mulai muncul pada tahun 1808. Ketika itu letusan disertai dengan uap dan abu vulkanik terjadi. Aktivitas gunung ini berlanjut pada tahun 1821, namun tidak ada catatan mengenai hal tersebut. Pada tahun 1843, Gunung Agung meletus kembali yang didahului dengan sejumlah gempa bumi.
Letusan ini juga menghasilkan abu vulkanik, pasir, dan batu apung. Sejak 120 tahun tersebut, baru pada tahun 1963 Gunung Agung meletus kembali dan menghasilkan akibat yang sangat merusak.
Pada tahun 1979, gempa bumi sebelum letusan gunung berapi yang saat ini masih aktif tersebut terjadi pada 16-18 Februari 1963. Letusan Gunung Agung yang diketahui sebanyak 4 kali sejak tahun 1800, diantaranya di tahun 1808. Dalam tahun ini dilontarkan abu dan batu apung dengan jumlah luar biasa.
Tahun 1821 terjadi letusan normal, selanjutnya tidak ada keterangan. Tahun 1843 Letusan didahului oleh gempa bumi dan memuntahkan abu, pasir, dan batu apung.
Selanjutnya tahun 1908, 1915, dan 1917 di berbagai tempat di dasar kawah dan pematangnya tampak tembusan fumarola. 1963, Letusan dimulai tanggal 18-2-1963 dan berakhir pada tanggal 27-1-1964. Korban tercatat 1.148 orang meninggal dan 296 orang luka.
erupsi gunung yang berada di timur laut Bali itu terakhir kali terjadi pada 1963, setelah tidur selama 120 tahun. Sebanyak 1.600 orang tewas dan 86.000 lainnya harus kehilangan rumah.
Erupsi kala itu bermula pada 19 hingga 26 Februari 1963. Sejumlah batu kecil menghujani Pura Besakih yang terletak di lereng Gunung Agung. Awan panas dan aliran lahar pun turut menyertai erupsi itu.
Letusan dan sejumlah peristiwa yang menyertainya mereda pada pertengahan Maret. Jejak aliran lava sepanjang 11 km terbentuk akibat peristiwa tersebut.
Namun, letusan gunung itu kembali berlanjut pada 17 Maret 1963. Serangkaian letusan terjadi hampir selama 10 jam dan disertai hujan batu, awan panas, dan aliran lava.
Sejumlah batuan panas berdiameter 5 hingga 8 cm dimuntahkan seketika dari kawah hingga radius 9,6 kilometer. Pasir dan abu setinggi 10 hingga 40 cm pun sebagian besar menyelimuti bagian barat Gunung Agung.
Pada 16 Mei, di tahun yang sama, erupsi Gunung Agung kembali terjadi. Peristiwa itu dimulai dengan erupsi kecil yang makin lama tambah menguat dan berlangsung hingga enam jam.
Enam sungai di selatan dan dua sungai di utara mengalirkan lahar. Batuan panas berdiameter 10 hingga 15 cm terlontar ke segala arah hingga radius 9,6 kilometer. Abu yang menutupi sejumlah wilayah di Gunung Agung mencapai satu kilometer. Aktivitas Gunung Agung mereda dan kembali stabil pada akhir 1963.
Dan saat ini, jumlah warga di sekitar Gunung Agung, Karang Asem, Bali, yang mengungsi menyusul meningkatnya aktivitas vulkanik Gunung Agung terus bertambah.
Diperkirakan angka tersebut akan terus bertambah, mengingat belum semua pengungsi terdaftar. Bahkan ada sebagian masyarakat yang mengungsi keluar Pulau Bali. Pendataan terus dilakukan oleh Pusdalops BPBD Provinsi Bali selaku institusi yang berwenang mengeluarkan data pengungsi secara resmi.
I Gede Pasek Suardika menilai bahwa tinggal dimanapun pasti ada resikonya termasuk tingal di lereng gunung yang masih aktif seperti Gunung Agung.
"Saya kira sama saja (resiko tempat tinggal). Saya saja membuat pasraman juga dekat Gunung Agung dan sekarang masuk Kawasan Rawan Bencana (KRB) radius 9-12 KM. Tentu krn mempertimbangkan suasana alam yang indah, ketenangan lokasi dan kesejukan udara," ujarnya.
Olehnya itu ia juga menghuimbau kepada masyarakat agar mematuhi segala instruksi dari pihak yang berwenang menginat status Gunung Agung yang sudah dinaikkan menjadi status awas.
"Kalau sekarang harus penghuninya mengungsi, ya tidak apa-apa. Ikuti petunjuk saja," imbuhnya.(fin)
(Amril Amarullah (Okezone))