JAKARTA - Peristiwa gerakan 30 September 1965 atau dikenal dengan G30S/PKI tak lepas dari nama Soeharto. Pasca peristiwa kelam itu, Soeharto muncul sebagai pahlawan dan langsung merangsek menempati sejumlah kursi penting dalam pemerintahan, hingga menjadi seorang presiden menggantikan Soekarno ketika itu.
Setelah peristiwa G-30-S/PKI, Soeharto menjabat sebagai Panglima Angkatan Darat menggantikan Jendral Ahmad Yani yang gugur akibat pergerakan G30S/PKI. Selain itu, Soeharto juga menjabat sebagai Pangkopkamtib yang ditunjuk oleh Presiden Soekarno pada waktu itu.
Puncak karier Soeharto melesat berbarengan dengan terbitnya surat perintah sebelas maret yang kemudian dikenal dengan sebutan "Super Semar" pada Maret 1966. Super Semar berisikan perintah Soekarno kepada Soeharto untuk mengendalikan keamanan dan ketertiban negara yang sempat kacau akibat percobaan kudeta oleh PKI.
Lalu, pada bulan maret 1967, lewat sidang istimewa MPRS, Soeharto ditunjuk sebagai Presiden Republik Indonesia menggantikan posisi Soekarno.
Perjalanan panjang Soeharto sebagai presiden dimulai saat itu. Soeharto memimpin sebuah rezim yang dikenal sebagai orde baru. Pada era itu, Soeharto merombak kebijakan politik dalam dan luar negeri Indonesia, salah satunya mengembalikan keanggotaan Indonesia di Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) pada 28 September 1966.