LONDON - Inggris dilaporkan bersiap untuk menghadapi kemungkinan terjadinya perang dengan Korea Utara (Korut). Kekhawatiran mereka pun meningkat ketika mengetahui bahwa terdapat tes rudal provokatif lainnya yang memicu respons militer AS.
Ketegangan Korut dan AS telah meningkatkan ketegangan di kawasan tersebut dalam beberapa bulan terakhir, yang mendorong pejabat Inggris untuk menyusun rencana militer untuk menanggapi pecahnya permusuhan.
Rencana tersebut di antaranya adalah persiapan kapal induk terbaru Angkatan Laut, HMS Queen Elizabeth, sebelum menjalani uji coba penerbangan.
BACA JUGA: Semenanjung Korea Memanas! Korsel Pertimbangkan Opsi Militer Hadapi Nuklir Korut
"Kami memiliki banyak kapal... ada kapal perusak tipe 45, pesawat tempur tipe 23. Kapal induk baru Inggris dapat berada di layanan lebih awal jika semuanya mengarah ke selatan," kata seorang senior Whitehall, dikutip dari The Telegraph, Selasa (10/10/2017).
HMS Queen Elizabeth, yang tiba di markasnya di Portsmouth pada Agustus telah diuji coba di lautan luas namun tidak memasuki layanan hingga 2020.
"Ini adalah reaksi untuk melindungi wilayah Inggris, namun dalam kasus ini (Korut), Inggris akan menjadi bagian dari koalisi global yang bersatu. Kami akan melihat dukungan apa yang dapat kami berikan," tambahnya.
BACA JUGA: Korut Tuding AS Umumkan Perang, Ternyata Ini Penyebabnya
Selain itu, Sir Michael Fallon, Sekretaris Kementerian Pertahanan, mengatakan pada pekan lalu bahwa Inggris harus meningkatkan kekuatan militernya dalam menghadapi ancaman yang terus meningkat dari negara-negara seperti Korut.
Sekadar diketahui, AS mengatakan bahwa mereka memiliki opsi militer untuk menangani Korut. Pernyataan ini menandakan kesabaran AS habis untuk berdiplomasi dengan Korut setelah mereka melepaskan sebuah rudal ke Jepang dan memasuki Samudra Pasifik untuk kedua kalinya dalam sebulan.
Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih, HR McMaster, mengatakan bahwa AS kehabisan kesabaran untuk solusi diplomatik mengenai program rudal dan nuklir Korut.
"Bagi mereka yang telah mengomentari kurangnya pilihan militer, ada opsi militer," kata McMaster, seraya menambahkan bahwa ini bukan pilihan yang disukai oleh Trump.
(pai)
(Rifa Nadia Nurfuadah)