KRISIS Rudal Kuba merupakan salah satu peristiwa penting yang membayangi ketegangan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet pada era Perang Dingin. Pasalnya, krisis ini nyaris memicu pecahnya perang nuklir antara kedua negara tersebut.
Namun, sejarah mencatat pada hari ini di 1962 sebagai momen krisis itu berakhir dan dapat membuat lega komunitas internasional yang ikut terserat dalam ketegangan Negeri Paman Sam dan Uni Soviet.
Sebagaimana dikutip dari History, Sabtu (28/10/2017) krisis rudal Kuba berakhir ketika pemimpin Uni Soviet, Nikita Khrushchev setuju untuk menyingkirkan rudal negaranya dari Kuba. Namun, Khrushchev meminta “bayaran” atas keputusannya itu dengan Amerika Serikat yang harus berjanji menghargai wilayah kedaulatan Kuba.
Keputusan itu kemudian mengakhiri ketegangan yang diciptakan oleh Amerika Serikat dan Kuba karena kedua negara saling melontarkan kemungkinan terjadinya perang nuklir.
BACA JUGA: HISTORIPEDIA: Krisis Rudal Kuba Panaskan Perang Dingin dan Nyaris Cetuskan Konflik Nuklir
Walau konflik berhasil dielakkan namun konsekuensi krisis rudal tersebut sudah tercipta. Hubungan antara Uni Soviet dan Amerika Serikat juga masih belum membaik usai keputusan penyingkiran rudal di Kuba tersebut.
Fidel Castro merupakan salah satu pihak yang geram dengan keputusan tersebut. Ia menuding, Uni Soviet mundur dari konfrontasi dengan Amerika Serikat dan meninggalkan revolusi Kuba.