Inspiratif! Kisah Soebagijono Bebaskan Puluhan Penderita Gangguan Jiwa dari Pemasungan

Yudhistira Dwi Putra, Jurnalis
Selasa 21 November 2017 08:00 WIB
Soebagijono (FOTO: Koran Sindo)
Share :

MALANG - Tak banyak yang dapat dilakukan Soebagijono hari itu, kala dirinya menyaksikan seorang perempuan dengan gangguan jiwa yang dipasung, terpaksa meminum air seni dan memakan kotorannya sendiri. Peristiwa tersebut menjadi titik balik dalam kehidupan Soebagijono. Mulai saat itu, Soebagijono bertekad untuk membebaskan orang-orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dari pemasungan.

Hari itu, Oktober 2011, di tanggal yang tak dapat diingatnya, Soebagijono yang merupakan perawat Puskesmas Bantur tengah memberikan pelayanan dan penyuluhan tentang pencegahan penyakit demam berdarah di Desa Sumber Bening, Kecamatan Bantur, Kota Malang.

Saat tengah memberikan penyuluhan, tiba-tiba terdengar teriakan seorang perempuan. Mendengar teriakan itu, Soebagiono dan beberapa petugas lain segera mendatangi sumber suara tersebut. Betapa terkejutnya Soebagijono ketika menyaksikan seorang perempuan tengah dipasung di dalam sebuah ruangan dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Dari balik celah ruangan, perempuan itu mengambil selembar daun talas yang berada di luar ruangan.

“Saat itu, sedang ramai kasus demam berdarah, dan saya sebagai petugas kesehatan mendapatkan tugas untuk penyuluhan dan pemeriksaan jentik ke desa-desa,” kata Soebagijono seperti dikisahkan Koran Sindo.

“Daun itu diambil, lalu digunakan untuk tempat kotorannya sendiri. Dan maaf, kotoran itu lalu dimakannya. Bahkan minumnya, juga dari air seninya sendiri,” tuturnya mengisahkan.

Pasca peristiwa tersebut, Soebagijono mengaku kacau. Namun, laki-laki 49 tahun itu tak tinggal diam. Beberapa hari setelahnya, Soebagijono segera kembali ke Desa Sumber Bening untuk melakukan observasi. Dari hasil observasi, diketahui bahwa perempuan tersebut telah dipasung selama puluhan tahun oleh keluarganya sendiri. Alasan pemasungan, dijelaskan Soebagijono, lantaran keluarga malu dengan kondisi kejiwaan perempuan tersebut.

Dari hasil observasi awal yang dilakukan di beberapa tempat lainnya, Soebagijono menemukan 24 ODGJ, dimana empat ODGJ dipasung. Mas Bagyo --sapaan akrab Soebagijono-- juga menemukan sejumlah fakta identik antara satu pemasungan dengan pemasungan lain. Kebanyakan pemasungan dilakukan oleh keluarga dari ODGJ sendiri. Alasannya pun serupa: malu.

Bagyo pun menyimpulkan adanya kesalahan cara pandang di tengah masyarakat dalam menangani ODGJ. Menurut Bagyo, ODGJ seharusnya diperlakukan dengan manusiawi, didampingi dan diberikan perlindungan dari ancaman-ancaman yang dapat memperparah kondisi kejiwaannya. Bukan malah disembunyikan dan diperlakukan keji, sebagaimana banyak dilakukan masyarakat awam.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya