YANGON - Pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi berencana akan melakukan kunjungan resmi ke Beijing, China. Kunjungan ini dilakukan perempuan berusia 72 tahun di tengah meningkatnya kritik global terhadap Myanmar khususnya dari negara-negara barat.
Suu Kyi diduga kuat mengunjungi Negeri Tirai Bambu untuk mencari dukungan atas tekanan yang diterima Myanmar. Sebagaimana diketahui, Myanmar dituding telah melakukan upaya pembersihan etnis dan mendapat tekanan dari negara-negara barat atas kekerasan terhadap warga Rohingya.
BACA JUGA: Hmm... Dukung Myanmar, China Minta Dunia Bersabar Terkait Krisis Rohingya
Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Amerika Serikat (AS) telah mendesak militer Myanmar untuk bertanggung jawab atas kekerasan tersebut. Dan telah menyebabkan lebih dari 620 ribu orang melakukan eksodus dari Rakhine. Melansir Reuters, Senin (27/11/2017), berbeda dengan negara-negara barat, Pemerintah China sejauh ini justru setia mendukung Pemerintah Myanmar.
Bahkan China dilaporkan bergerak maju melindungi Myanmar di forum PBB. Sebelumnya, melalui Duta Besar China untuk Myanmar, Hong Liang, China menyatakan dukungan terhadap serangan yang dilakukan tentara militer Myanmar pada Rohingya dengan dalih memerangi gerilyawan di Rakhine.
BACA JUGA: Oalah! China Dukung Tindakan Keras Militer Myanmar terhadap Etnis Rohingya
Selain itu, Pemerintah China juga meminta dunia internasional untuk bersabar dan mendukung upaya Myanmar dalam menjaga situasi domestik tetap stabil. Rencana kunjungan Suu Kyi ke China diumumkan tak lama setelah panglima militer Myanmar, Min Aung Hlaing mengunjungi Negeri Panda dan disambut baik oleh Presiden Xi Jinping.
Sementara itu, surat kabar Global Light menyebut, pemenang Nobel Perdamaian itu berkunjung ke Negeri Panda untuk menghadiri sebuah forum pemimpin politik Komunis China di Beijing. Namun, Juru bicara Suu Kyi, Zaw Htay, menolak memberikan rincian informasi lebih lanjut mengenai kunjungan ini.
BACA JUGA: Hmm... Krisis Rohingya, China Ambil Sikap Mendukung Myanmar di PBB
Kantor berita Xinhua melaporkan, pertemuan forum tersebut akan berlangsung pada Kamis 1 Desember sampai dengan 3 Desember. Myanmar semakin menjadi sorotan dunia internasional menyusul kunjungan Paus Fransiskus ke negara dengan mayoritas beragama Buddha itu.
(Rufki Ade Vinanda)