"Kalau sudah luas dan paling penting memuliakan pejalan kaki dulu. Baru kalau ada space lebih, bisa untuk atraksi budaya atau atraksi lainnya. Kalau di luar kan ada jugglers, musik, dan lainnya. Nanti lihat saja. Tergantung daripada situasi dan kondisi di lapangan," ungkapnya.
Pelebaran trotoar Jalan Jenderal Sudirman dan Thamrin memang mengalami perubahan. Untuk desain trotoar yang semula direncanakan diperlebar menjadi 8-12 meter dari sekira lima meter yang ada saat ini akan dikurangi guna menyediakan lajur untuk kendaraan motor.
“Untuk pelebaran trotoar kami hanya memangkas (topping) 554 pohon di bagian dua separator, belum memindahkan. Karena kalau 8-12 meter itu pohon tersebut harus dipindahkan. Nah kami tunggu design," ujar Kepala Seksi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Jalur Hijau Dinas Kehutanan DKI Arwin Adlin.
Sementara itu, Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta, Ricardo menyarankan agar sebaiknya penataan trotoar menunggu hasil audit SSS dan penerjaan Mass Rapid Transit (MRT) selesai. Sebab, kata dia, selain jalur lambat dan jalur cepat Jalan Sudirman-Thamrin saat ini sangat padat apalagi saat jam-jam sibuk, apabila terjadi temuan penggunaan KLB, DKI bisa meresponya dengan cepat.
Selain itu, politisi PDI Perjuangan itupun meminta agar penggunaan dana KLB dievaluasi. Sebab, banyak pembangunan yang menggunakan dana KLB bermasalah dan tidak tercata dalam aset DKI. "Sebaiknya bereskan dahulu penggunaan KLB. Kemudian tingkatkan pelayanan angkutan umum. Kami sepakat untuk mengubah jantung kota, tapi tidak bisa terburu-buru tanpa solusi," jelasnya.
(Angkasa Yudhistira)