Namun, pernyataan Mogherini itu disanggah oleh PM Benjamin Netanyahu. Ketua Partai Likud itu menyatakan bahwa keputusan AS adalah sebuah pengakuan terhadap realita. Netanyahu sendiri sedang menjalani tur Eropa untuk bertemu menteri-menteri luar negeri negara anggota UE di Brussels.
Ia sebelumnya menyambangi Prancis untuk bertemu Presiden Emmanuel Macron di Paris pada Minggu 10 Desember. Pria berusia 39 tahun itu mendesak agar Netanyahu melakukan gestur berani untuk menyelesaikan kebuntuan yang saat ini terjadi dengan Palestina.
“Saya meminta Perdana Menteri Netanyahu untuk melakukan suatu gestur berani dengan terhadap Palestina untuk memecahkan kebuntuan saat ini. Pembekuan pembangunan pemukiman untuk sementara waktu bisa menjadi langkah awal,” kata Emmanuel Macron.
Mantan Menteri Ekonomi Prancis itu menyatakan, Negeri Mode yakin bahwa solusi dua negara adalah satu-satunya opsi untuk mengakhiri konflik Israel-Palestina. Namun, Netanyahu kembali mengatakan Palestina harus menerima fakta pahit bahwa Yerusalem adalah Ibu Kota Israel secara historis.
(Wikanto Arungbudoyo)