AS Klaim Yerusalem Ibu Kota Israel, Dubes Yordania: Kota Suci Ini Milik Semua

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis
Jum'at 15 Desember 2017 19:05 WIB
Umat Islam di Bangladesh turun ke jalan dalam aksi solidaritas kepada Palestina, menolak klaim AS bahwa Yerusalem adalah ibu kota Israel. (Foto: Reuters)
Share :

JAKARTA – Isu Yerusalem adalah milik semua. Menurut Duta Besar Yordania untuk Indonesia, Walid al Hadid, Arab, Muslim, Kristiani, semua punya kepentingan di Yerusalem. Termasuk juga Yordania yang ditunjuk oleh PBB untuk menjadi penjaga dari Yerusalem, terutama di kompleks Masjid al Aqsa.

“Palestina tidak hanya bagian dari kebijakan luar negeri Indonesia, tetapi juga isu dalam negeri. Yerusalem adalah isu buat semua orang baik itu Arab, Muslim, Kristiani. Yerusalem adalah kota paling suci. Semua orang punya kepentingan,” ujar Walid al Hadid dalam diskusi di Bengkel Diplomasi FPCI, Menara Mayapada, Jakarta Pusat, Jumat (15/12/2017).

Umat Islam Bangladesh turun ke jalan memprotes pengakuan sepihak AS atas Yerusalem. (Foto: Reuters)

BACA JUGA: Klaim Yerusalem Jadi Ibu Kota Israel, AS Harus Hadapi Risiko Dikucilkan

Ia mengatakan, Yordania memiliki hubungan spesial dengan Yerusalem terlepas dari berbagai okupasi yang dilakukan Israel terhadap kota tersebut. Hubungan tersebut dikukuhkan lewat perjanjian dengan Israel sebagai 1994 di mana Yordania mengelola kompleks Muslim di Yerusalem.

Karena itu, tidak ada satu negara pun yang berhak mengakui Yerusalem sebagai wilayahnya. Sebab, hingga kini Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) masih berupaya mempertahankan status quo terkait Yerusalem. Langkah tersebut memberikan jalan bagi Israel dan Palestina untuk menentukan status final kota lewat jalur negosiasi.

Hal tersebut juga ditekankan oleh Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat (AS), Rex Tillerson. Meski Presiden Donald Trump mengakui bahwa Yerusalem adalah Ibu Kota Israel, nyatanya politikus Partai Republik itu tetap menyerahkan status final kepada Israel dan Palestina.

"Status Yerusalem harus dibahas antara Palestina dengan Israel. Tidak ada pihak lain yang boleh intervensi. Saya mengapresiasi Menlu Retno yang tiga kali menelefon Tillerson sebelum pengumuman dan memanggil duta besar dua kali agar keputusan itu ditunda," tukas Walid al Hadid.

BACA JUGA: Presiden Jokowi: Kita Bulatkan Suara untuk Bela Palestina

Sebagaimana diberitakan, pengakuan AS akan status Yerusalem tersebut diiringi dengan perintah pemindahan Kedutaan Besar (Kedubes) dari Tel Aviv. Namun, pemindahan kantor kedubes itu diyakini baru akan terjadi secara bertahap antara 6-24 bulan setelah pengumuman tersebut.

(Rifa Nadia Nurfuadah)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya