MOJOKERTO - Ratusan warga di Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, hanya bisa meratapi nasibnya. Sebab, sudah beberapa hari ini rumahnya terendam banjir akibat luapan air sungai di wilayah tersebut.
Informasi yang dihimpun, banjir sudah tiga hari ini merendam pemukiman padat penduduk di Kelurahan Kalirejo, Kelurahan Kalianyar, serta di Desa Tambakan. Hal ini disebabkan akibat Sungai Kedung Larangan yang berada di kelurahan dan desa tersebut meluap.
"Sudah tiga hari ini banjir merendam rumah kami. Memang sempat surut, tapi kemudian banjir lagi. Sekarang saja air mulai kembali naik," terang Andi salah seroang warga setempat saat dihubungi Okezone, Rabu (20/12/2017).
Ia menuturkan, saat ini genangan air di dalam rumah warga cukup bervariasi, berkisar antara 50 sentimeter (cm) hingga 1 meter. Setidaknya ada ratusan rumah di dua kelurahan dan satu desa di wilayah tersebut yang tergenang air.
Menurutnya, banjir tersebut seakan sudah menjadi rutinitas setiap musim penghujan melanda wilayah tersebut. Sebab, hampir setiap tahun, air sungai Kedung Larangan selalu meluber dan menggenangi rumah warga.
"Sejak saya kecil sudah seperti ini, banjir selalu datang setiap musim hujan. Tapi sepertinya tidak ada solusi dari pemerintah daerah. Beberapa waktu lalu jalannya di tinggikan, tapi tetap saja banjir, karena sungainya dangkal dan sempit," tuturnya.
Warga pun mengeluhkan minimnya perhatian pemerintah daerah (Pemda) setempat terhadap ratusan warga di kelurahan tersebut. Kendati aktivitas warga lumpuh akibat banjir, Pemda setempat baru memberikan bantuan berupa mie instan kepada warga korban banjir.
"Sudah ada bantuan, tapi hanya 5 bungkus mie instan. Padahal warga butuh lebih dari itu. Misalnya makanan siap saji yang bisa langsung dimakan, karena kami tidak bisa memasak. Kemudian air bersih untuk minum, serta bantuan lainnya," terangnya.
Tak hanya itu, Andi mengaku jika ada hal lain yang menjadi permintaan warga. Yakni langkah konkret Pemda Pasuruan untuk menanggulangi bencana banjir yang sudah puluhan tahun melanda tiga desa itu.
"Harapan kami dilakukan normalisasai sungai. Karena banjir ini akibat luapan air sungai. Sementara hingga kini upaya yang dilakukan belum sampai ke ranah itu. Itu harapan kami, semoga segera direalisasikan oleh Pemda," tandasnya.