EUFORIA atas menyerahnya Jepang pada pasukan Sekutu meliputi Amerika Serikat (AS) pada 14 Agustus 1945. Perasaan lega bercampur dengan senang membuat ribuan orang memadati jalanan di New York untuk merayakan kemenangan Perang Dunia II tersebut.
Di Times Square, seorang pelaut tiba-tiba mencium seorang perawat dengan sangat intim. Momen tersebut diabadikan oleh seorang fotografer yang kebetulan melintas. Foto tersebut pertama kali dpublikasikan pada 27 Agustus 1945 oleh majalah LIFE.
Momen ciuman tersebut menjadi salah satu foto paling ikonik sepanjang sejarah. Namun, ternyata fakta tidak seindah momen yang tertangkap tersebut. Perempuan itu bukanlah seorang perawat. Ia juga tidak pernah bertemu dengan si pelaut sebelumnya bahkan hingga 35 tahun ke depan.
Si pelaut juga bukan hanya mabuk, tetapi memeluk dan mencium seorang perempuan yang tidak dikenalnya. Fakta-fakta itu belum terungkap hingga 1980 ketika masing-masing si pelaut dan perawat itu menceritakan latar belakang momen ciuman tersebut.
George Mendonsa, si pelaut, sedang cuti setelah dua tahun mengabdi di kapal USS The Sullivans yang beroperasi di Pasifik. Pria yang saat itu berusia 22 tahun mengajak perempuan bernama Rita Petry untuk berkencan dengan menonton film ketika mendengar kabar bahwa Jepang menyerah. Mendosa dan Petry berlari keluar bioskop dan menuju bar terdekat. Si pelaut lantas menenggak beberapa botol alkohol hingga mabuk.
Si perawat, Greta Zimmer, adalah imigran asal Austria yang tinggal di AS demi menghindari kekejaman Nazi Jerman. Perempuan kelahiran 1924 itu tiba di New York pada 1939 dan bekerja sebagai asisten dokter gigi. Pada 14 Agustus 1945, Greta sedang bekerja di klinik dengan menggunakan seragam putih khas perawat ketika kabar menyerahnya Jepang tersiar.
“Saya langsung keluar ke Times Square di mana papan iklan begitu terang mengelilingi gedung. V-J Day, V-J Day, teriak orang-orang seakan mengonfirmasi apa yang saya dengar di klinik,” terang Greta Zimmer dalam sebuah wawancara pada 2005, mengutip dari The Vintage News, Sabtu (3/2/2018).
Di tengah meriahnya Times Square, Mendosa tiba-tiba memeluk, menggenggam pinggang Greta, dan menciumnya. Greta Zimmer mengaku, ciuman tersebut bukan hanya sebuah tanda kasih sayang biasa, tetapi ada cerita di baliknya.
“Itu bukan hanya sebuah ciuman. Itu lebih kepada rasa senang bahwa dirinya tidak harus kembali bertugas. Saya baru tahu kemudian bahwa dia sangat bahagia tidak harus kembali ke Pasifik di mana dia terlibat dalam perang,” kata Greta Zimmer.
Secara kebetulan, fotografer bernama Alfred Eisenstaedt melintas. Pria yang dijuluki sebagai bapak jurnalis foto itu ditugaskan oleh majalah LIFE untuk mengabadikan momen menyerahnya Jepang yang dirasakan oleh warga Amerika Serikat di New York.
Mata sang fotografer dengan cepat menangkap kontrasnya warna putih di seragam yang dipakai Greta dan warna hitam yang dikenakan George. Alfred Eisenstaedt memotret hanya dalam hitungan detik. Dalam sekejap, ketiga orang tersebut lalu berpisah.
Bagaimana dengan nasib Rita Petry, perempuan yang diajak kencan oleh George Mendonsa? Perempuan tersebut ternyata menyaksikan momen Mendonsa mencium Zimmer. Petry tidak merasa dendam atau cemburu. Ia akhirnya menikah dengan George Mendonsa dan hidup bahagia.
George, Greta, dan Alfred sama sekali tidak mengenal satu sama lain ketika momen itu terjadi. Ketiganya juga tidak saling mengenalkan diri sehingga foto itu menjadi perdebatan panjang. Sejak diterbitkan pertama kali, sedikitnya 11 orang pelaut dan tiga orang perawat mengklaim bahwa sosoknya berada di foto tersebut.
Fakta baru terkuak pada 1980 ketika LIFE benar-benar berupaya mencari identitas asli si pelaut dan perawat. Pihak majalah akhirnya berhasil melacak keberadaan George Mendonsa serta Greta Zimmer Friedman dan mempertemukan kembali keduanya untuk pertama kali sejak 14 Agustus 1945.
“Alasan mengapa dia memeluk seseorang yang berpakaian seperti perawat adalah karena dia merasa bersyukur kepada para perawat yang mengurus korban luka-luka di masa perang. Saya merasa dia sangat kuat saat itu. Dia memeluk dengan sangat erat, seperti orang yang sedang merayakan. Itu bukan momen romantis,” tukas Greta Zimmer dalam sebuah wawancara.
(Wikanto Arungbudoyo)