PURWAKARTA - Dedi Mulyadi, berhasil membawa Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat lebih berkarakter. Sejak menjabat bupati di wilayah ini, terobosan demi terobosan terus dilakukannya tiada henti. Bukan sekedar mempercantik daerahnya, ide kreatifnya kerap membuahkan kebijakan brilian di sektor lain.
Di sektor pendidikan misalnya. Pria nyentrik berperawakan kecil itu sukses membuat beberapa kebijakan yang mungkin tak pernah ada di daerah lain. Sehingga, wajar saja jika saat ini sektor pendidikan di Purwakarta cenderung terlihat lebih berkarakter.
Kebijakan Kang Dedi (sapaannya), salah satunya bisa dilihat dari program pemadatan jam belajar bagi siswa menjadi lima hari. Jadi, dalam program ini, pelajar tingkat SD sampai SMA di wilayah itu hanya belajar terhitung Senin-Jumat. Tak hanya itu, jam pelajaran tidak lagi dimulai pukul 07.00 WIB, tapi dimajukan menjadi pukul 06.00 WIB dan berakhir di jam 11.00 WIB.
(Baca Juga: Dedi Mulyadi Bentuk Karakter Anak Melalui Program Tujuh Hari Pendidikan Istimewa, Apa Saja Itu?)
Dedi pun mengakui, kebijakan yang digulirkannya ini cukup berat untuk dijalankan dalam tatanan teknisnya. Baik itu bagi guru, maupun siswanya sendiri. Apalagi, selama ini tak terbiasa dengan program seperti itu.
Namun, Dedi memiliki alasan kuat terkait kebijakan yang digulirkannya itu. Salah satu tujuannya, tak lain untuk membentuk karakter para pelajar agar memiliki mental yang kuat.
"Saya minta maaf, kalau banyak kebijakan saya, misalnya melarang PR, sekolah masuk jam 6 pagi, atau melarang siswa bawa motor ke sekolah itu memberatkan," ujar Dedi saat berpamitan dengan para guru dan kepala sekolah di Aula Yudistira, komplek perkantoran Pemkab Purwakarta.
Dedi memandang, kebijakan tersebut juga berorientasi menciptakan daya saing bagi pelajar sekaligus membangun produktivitas. Dia pun berpendapat, pola pendidikan itu harus menjadikan siswa memiliki daya saing, bukan generasi manja.
"Ini semua saya lakukan, demi terciptanya generasi muda yang lebih produktif," jelas dia.
Pendidikan Kultur
Dalam kesempatan tersebut, Dedi menceritakan kisah masa kecilnya di sekolah. Kata dia, pendidikan dahulu berpijak pada kultur sehingga melahirkan pribadi yang santun dan berkarakter. Sementara hari ini, pola pendidikan yang diterapkan merupakan pendidikan ala barat yang hanya berpijak pada aspek akademik.
"Saya mengedepankan pendidikan kultur karena merasa khawatir pola pendidikan ini akan hilang. Maka falsafahnya adalah Pendidikan Berkarakter," katanya
Falsafah Pendidikan Berkarakter ini sebenarnya sudah diterapkan di Purwakarta sejak awal kepemimpinan Dedi Mulyadi yakni Tahun 2008. Kemudian, baru diperbupkan pada Tahun 2015.
Hal ini menurut Dedi, dilakukan karena yang terpenting adalah penciptaan kultur terlebih dahulu. Aspek legal formal dipenuhi setelah kultur tersebut mengakar dalam kebiasaan siswa.
"Semoga etos positif tercipta di tengah-tengah pelajar kita," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Sekolah SMPN 5 Purwakarta, Rikrik Halimatusa'diyah mengatakan Dedi Mulyadi merupakan sosok Bupati yang concern terhadap dunia pendidikan. Berbagai kebijakan yang telah diluncurkan diakuinya membantu dia dan jajaran dalam mendidik para pelajar.
"Kami sebagai pendidik sebenarnya terbantu dengan kebijakan itu. Beliau memang Bupati yang paling concern terhadap pendidikan anak-anak," katanya.
(Khafid Mardiyansyah)