KEINGINAN William Adams untuk keliling dunia dengan menggunakan kapal harus dikubur dalam-dalam. Ia harus mengalami kegagalan dan justru berakhir di Jepang. Namun, seperti halnya cerita dalam sebuah film, kisahnya berakhir dengan bahagia.
William Adams lahir di Gillingham, Kent, Inggris, pada 1564. Ayahnya meninggal dunia ketika ia masih berusia 12 tahun. Demi menyambung hidup, remaja itu magang di perusahaan galangan kapal milik Master Nicholas Diggins. Selama 12 tahun, ia belajar membangun kapal, astronomi, dan navigasi.
Adams kemudian mengabdi di Angkatan Laut Inggris, yang salah satu tugasnya dalah bertarung melawan armada Spanyol pada 1588. Pada dekade 1590, Adams dikirim untuk menjalani misi ke Barbary. Ia mendengar bahwa Belanda berencana mengirim kapal dalam jumlah besar ke Hindia Belanda.
Lima buah kapal sudah siap untuk berlayar tetapi ada satu kekurangan, seorang nahkoda yang memiliki kecakapan tinggi. Sebab, kapal itu harus melalui Samudera Atlantik dan Pasifik dalam waktu bersamaan.
Dinukil dari The Vintage News, Kamis (21/2/2018), Williams direkrut sebagai nakhoda. Pada Juni 1598, di usia 34 tahun, ia meninggalkan istri dan dua orang anaknya demi memimpin kapal ke Timur Jauh. Williams turut mengajak adiknya, Thomas Adams, dalam pelayaran tersebut.
Misi tersebut menjadi bencana. Tidak ada satu pun kapal yang mampu menyelesaikan perjalanan hingga ke Timur Jauh. Hanya segelintir pelaut saja yang berhasil selamat, termasuk William Adams. Alih-alih menjadi kaya, para penyandang dana misi tersebut justru malah bankrut.
Lima kapal itu meninggalkan Rotterdam dengan tujuan mencapai Amerika Selatan. Akan tetapi, angin kencang dan cuaca buruk membawa mereka ke Guinea. Dari sana, kapal berlayar lewat Selat Magellan, tetapi hanya tiga yang mampu sampai ke Samudera Atlantik-Pasifik. Thomas Adams meninggal dunia saat kapalnya bersandar di Ekuador dan diserbu oleh penduduk setempat.
Tersisa dua kapal, Liefde dan Hoop, armada itu melaju dari Ekuador ke Jepang pada November 1599 hanya dengan berbekal peta dalam bentuk sketsa. Mereka sempat singgah, diduga di Hawaii, di mana delapan orang kru melarikan diri. Sekira dua bulan kemudian, Hoop tenggelam akibat badai dan semua krunya meninggal dunia.