Liefde berhasil tiba di Jepang pada April 1600 dengan tersisa 23 orang kru kapal. Rasa lapar yang mendera serta penyakit menyebabkan mereka sulit berjalan. Seleksi alam berlaku. Hanya sembilan kru yang berhasil bertahan di tanah Jepang, salah satunya William Adams.
Warga lokal dan juga dua misionaris Serikat Yesuit asal Portugal menemui para pelaut itu. Para pelaut yang beragama Protestan divonis mati oleh kedua misionaris itu. Akan tetapi, pejabat lokal sekaligus calon Shogun Jepang, Tokugawa Ieyasu, membatalkan vonis itu.
Adams dibawa ke Kastil Osaka untuk bertemu dengan Tokugawa Ieyasu. Keduanya mengobrol cukup intens meski melalui bahasa isyarat serta bantuan seorang penerjemah asal Portugal. Tokugawa tertarik pada belahan dunia selain Jepang dan meminta Adam menceritakan perang di negara asalnya, hubungan negara-negara Eropa, serta rute yang ditempuhnya hingga Jepang.
Tokugawa begitu terpikat oleh kecerdasan dan pengalaman si pelaut Inggris. Ia yakin bahwa William Adams akan jauh lebih berguna dalam keadaan hidup dibandingkan jika dieksekusi mati.
Ketika sudah mulai pulih, Tokugawa memerintahkan Adams dan krunya yang masih bertahan untuk membangun kapal pelayaran Jepang pertama yang bergaya Barat. Kapal tersebut digunakan untuk survei wilayah pantai Jepang.
Kecerdasan tersebut berhasil membuat Adams meraih kekaguman serta kepercayaan dari Tokugawa Ieyasu. Ia ditunjuk sebagai penasihat diplomatik dan dagang. Tak lama kemudian, ia dipercaya menjadi penasihat pribadi kepada sang shogun.
Tokugawa melepas kru kapal lain untuk meninggalkan Jepang, tetapi tidak dengan William Adams. Ia memberikan dua buah pedang kepada si orang Inggris yang menyimbolkan tingkat serta kekuasaan. Adams resmi menjadi seorang samurai dari Barat pertama, tidak hanya dari Inggris.
William Adams diberikan nama baru: Miura Anjin, atau pilot Miura. Ia diberikan sebuah rumah di Edo (sekarang dikenal dengan Tokyo). Meski masih berstatus menikah dengan istrinya di Inggris, Adams menikah lagi dengan seorang putri pejabat pengadilan Jepang, Oyuki. Pernikahan itu dikaruniai seorang putra dan seorang putri.
Adams berhasil menjalankan misi menjadi jembatan perdagangan bagi Inggris, Belanda, dan Jepang. Ia tidak pernah kembali ke Inggris dan meninggal dunia di Jepang pada 1620 di usia 55 tahun. Dalam surat wasiatnya, Adams menyatakan setengah dari hartanya diberikan kepada istri di Jepang, dan setengahnya lagi dipersembahkan untuk istri serta anak-anaknya di Inggris.
(Rahman Asmardika)