Vlacheslav "Molotov" Skryabin Lahir di Rusia

Rahman Asmardika, Jurnalis
Minggu 25 Februari 2018 06:01 WIB
Vlacheslav Mikhaylovich "Molotov" Skryabin. (Foto: Getty)
Share :

VLACHESLAV Mikhaylovich Skryabin, menteri luar negeri Uni Soviet yang lebih dikenal dengan nama revolusinya, Molotov, lahir pada 25 Februari 1890 di Kurkaka, Rusia. Nama Molotov dikenal sampai saat ini sebagai orang yang mempopulerkan penguunaan bom bensin selama perang.  

Molotov adalah pendukung antusias revolusi Marxis di Rusia sejak awal perkembangannya. Dia adalah salah satu tokoh penting Partai Bolshevik pada 1906 dan menjadi tahanan tsar Rusia pada 1909 dan 1915 karena aktivitas politiknya.  

Pada 1921, setelah kudeta yang membawa Vladimir Lenin berkuasa dan menggulingkan rezim tsar, Molotov ditunjuk menjadi sekretaris Komite Sentral pemerintah revolusioner. Setelah kematian Lenin pada tahun 1924, Molotov mendukung Joseph Stalin sebagai penerus Lenin. Dia kemudian mendapatkan keanggotaan penuh di Politbiro atau badan pembuat kebijakan Soviet saat Stalin berkuasa.

Karier Molotov terus menanjak. Pada 1930, dia diangkat menjadi ketua Dewan Komisar Rakyat, sebuah posisi yang kira-kira memiliki kedudukan setingkat dengan perdana menteri.

Dilansir History, saat Perang Dunia II pecah, Molotov menjabat sebagai komisaris Soviet urusan luar negeri. Di posisi ini dia merundingkan sebuah perjanjian kontroversial dengan Nazi Jerman yang dipimpin Hitler pada Agustus 1939.    

Dalam perjanjian Pakta Nonagresi Molotov-Ribbentrop 1939, kedua belah pihak, yaitu kubu antifasis Uni Soviet dan kubu Anti-Marxix Nazi Jerman sepakat untuk saling menghormati lingkungan pengaruh masing-masing negara.Namun, perjanjian yang sempat membuat marah dunia internasional itu pada akhirnya dilanggar oleh Jerman dengan melakukan invasi ke Uni Soviet.  

Ketika Jerman menyerang Uni Soviet, Molotov menjadi anggota Komite Pertahanan Negara, sebuah kabinet perang, dan melakukan negosiasi dengan Amerika Serikat dan Inggris Raya. Dia mendesak dibukanya "front kedua" yang akan menarik pasukan Jerman ke barat dan menjauh dari Uni Soviet.

Upaya diplomasinya itu membuatnya dikenal sebagai seorang advokat kepentingan SOviet yang keras dan tak kenal menyerah. Presiden Amerika Serikat Franklin D. Roosevelt menjuluki Molotov sebagai si "Pantat Batu" karena sikapnya tersebut. Meski banyak melakukan diplomasi dengan Amerika Serikat dan Inggris, Molotov juga tidak pernah menyembunyikan ketidaksukaannya terhadap sistem demokrasi yang dianut negara Barat.

Setelah perang usai, Molotov sempat meninggalkan posnya kementerian luar negeri sebelum kembali saat Nikita Kruschev berkuasa.Namun, ketidakcocokannya dengan Kruschev membuatnya terdepak dari posisinya dan kehilangan pengaruhnya di kabinet.

Keterlibatannya dengan kubu anti-Kruschev juga membuatnya ditendang dari semua posisi pemerintahan untuk memegang posisi-posisi yang lebih rendah. Di tahun-tahun terakhirnya di pemerintahan Molotov hanya memegang sejumlah jabatan rendah termasuk sebagai duta besar di Mongolia Luar.

Molotov pensiun dari pemerintahan pada 1962 dan meninggal dunia di Moskow pada 1986 di usia 96 tahun.

Meskipun dia memegang banyak jabatan penting di pemerintahan Soviet, nama Molotov saat ini lebih dikenal sebagai orang yang mendorong pemakaian botol berisi cairan mudah terbakar yang disulut dengan kain yang dibakar sebagai bom selama perang. Bom sederhana itu masih banyak digunakan sampai hari ini dan dikenal dengan nama Bom Molotov mengikuti namanya.

(Rahman Asmardika)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya