ISLAMABAD – Momen emosional dirasakan Malala Yousafzai saat kembali menginjakkan kaki di negara asalnya, Pakistan. Perempuan berusia 20 tahun itu mengaku selalu memimpikan saat-saat kembali ke Tanah Air. Hal itu diungkapkannya di Kantor Perdana Menteri Pakistan Shahid Khaqan, Islamabad.
“Selama lima tahun terakhir saya selalu bermimpi untuk menginjakkan kaki lagi di Pakistan. Ini adalah hari paling membahagiakan dalam hidupku. Saya masih tidak percaya ini menjadi kenyataan,” ujar Malala Yousafzai, mengutip dari Reuters, Kamis (29/3/2018). Ia sempat menghentikan pidatonya untuk menyeka air mata yang menetes.
“Saya biasanya tidak banyak menangis. Saya masih berusia 20 tahun tetapi telah banyak melihat hal terjadi dalam hidup,” ucapnya kepada hadirin seraya mengusap air mata yang tak henti menetes. Keluarga Yousafzai yang turut menyaksikan momen itu terbawa suasana meski melihat Malala dengan penuh rasa bangga.
BACA JUGA: Malala Pulang ke Pakistan 6 Tahun Pasca-Penembakan Taliban
Sebagaimana diberitakan, Malala Yousafzai pulang kampung ke Pakistan dalam rangka kunjungan selama empat hari. Ia dijadwalkan melakukan serangkaian acara, termasuk bertemu dengan Perdana Menteri Shahid Khaqan, serta para aktivis hak-hak perempuan dan pendidikan.
Malala juga berharap dapat berkunjung ke kampung halamannya di Swat, serta Kota Shangla, di mana sejumlah sekolah didirikan dengan pendanaan Yayasan Malala. Namun, seorang sumber dari keluarga dekat Yousafzai mengatakan, rencana kunjungan dibatalkan karena alasan administratif.
Peraih Hadiah Nobel Perdamaian 2014 itu hanya akan bertemu secara pribadi dengan keluarganya, yang sedang mengunjungi Islamabad. Kunjungan Malala selama empat hari tersebut akan dijaga ketat oleh aparat keamanan dengan alasan keamanan serta mencegah terjadinya serangan oleh Taliban.
Malala ditembak oleh anggota kelompok militan Taliban yang berupaya membunuhnya pada 9 Oktober 2012. Ia saat itu tengah menumpang bus untuk pulang ke rumah sepulang dari sekolah.
Militan Taliban melepaskan tembakan ke tiga tempat dan satu butir peluru masuk serta menembus kepala hingga bersarang di bahunya. Malala menderita luka serius yang dapat mengancam nyawanya. Ia kemudian diterbangkan ke rumah sakit militer Pakistan di Peshawar untuk mendapat perawatan.
Empat hari kemudian, Malala diterbangkan ke unit perawatan intensif (ICU) di sebuah rumah sakit di Birmingham, Inggris. Sejak itu, Malala tinggal di Negeri Ratu Elizabeth hingga mendapat hadiah Nobel Perdamaian pada 2014.
(Wikanto Arungbudoyo)