ENTIKONG - Dusun Sontas yang terletak di sebelah utara Kabupaten Sanggau, tepatnya di Kecamatan Entikong menyimpan cerita kerajinan pembuatan parang atau golok yang jarang diketahui masyarakat di luar kawasan perbatasan Kalimantan Barat dengan Malaysia.
Meski sebagian besar warganya bekerja sebagai petani, namun tidak sedikit warga di sini yang memiliki keahlian lain sebagai pandai besi untuk menunjang kehidupan ekonominya.
Sedikitnya 50 parang dihasilkan dari sebuah gubuk sederhana yang menjadi rumah pembuatan parang di Dusun Sontas yang lokasinya berada tepat di bibir Sungai Sekayam, setiap bulannya. Tidak ada mesin gerinda ataupun peralatan modern lainnya untuk membentuk dan menajamkan parang, semua dikerjakan manual di sini.
Salah seorang warga Dusun Sontas yang menjadi perajin parang adalah Riki Asem. Pria paruh baya ini sudah lebih dari lima tahun menjadi perajin parang. Ratusan parang sudah dibuatnya. Parang hasil tempaannya kemudian dijual kepada warga di sekitar Kecamatan Entikong. Ada juga yang dipasarkan ke negara tetangga, Malaysia.
“Harganya bervariasi. Yang kecil (ukuran 30 cm) itu Rp50 ribu, kalau yang besar (ukuran 50-60 cm) Rp75 ribu, itu kalau besinya dari mereka. Kalau bahannya dari saya agak mahal, satunya Rp100 ribu saya jual,” kata Riki Asem, belum lama ini.
Dalam sehari, Riki Asem bisa membuat dua parang ukuran kecil atau satu parang ukuran besar. Semua dikerjakannya sendiri. Riki Asem lebih bersemangat menempa besi jika ada pesanan dari negara tetangga, sebab harga jualnya akan disesuaikan dengan nilai tukar Ringgit terhadap Rupiah pada saat itu.
"Tapi kalau tidak ada pesanan saya tetap bikin asal ada besinya, kalau tidak ada saya kerja diladang,” imbuhnya.
Riki Asem mengungkapkan, kendala yang dihadapinya saat ini adalah sulitnya mencari besi untuk bahan baku pembuatan parang. Biasanya Riki Asem mendapatkan besi dari bekas sparepart kendaraan tua yang sudah tidak terpakai. Jika bahan bakunya mudah didapat, Dia yakin, produksi parang dari dusun sontas bisa mencapai ratusan parang setiap bulan.
“Kendalanya cuma itu, susah dapat besi. Kalaupun ada yang jual, harganya tinggi. Harapannya ada bantuan agar perajin bisa bertahan, paling tidak pendampingan lah untuk kami di sini,” pungkasnya.