Ini 2 Presiden Indonesia yang Terlupakan Jasanya dan Tak Tercatat Sejarah

Amril Amarullah, Jurnalis
Selasa 10 April 2018 16:44 WIB
Mural sosok tujuh Presiden Indonesia (foto: Novrian Arbi/Antara)
Share :

JAKARTA – Indonesia ternyata pernah memiliki presiden selain Soekarno, Soeharto, BJ. Habibie, Abdurrahman Wahid (Gusdur), Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Joko Widodo (Jokowi). Diantara 7 nama itu, ada dua nama lain yang pernah juga memimpin negeri ini, yakni Syafruddin Prawiranegara dan Mr.Assat.

Dikutip Okezone dari berbagai sumber bahwa dua tokoh tersebut memiliki peran besar dalam upaya mempertahankan dan menyelamatkan negara dalam keadaan bahaya lantaran kekosongan kepala pemerintahan. Kepemimpinan itu juga yang harus dipegang bangsa Indonesia agar tetap diakui dunia Internasional sebagai sebuah negara yang merdeka.

Sjafruddin Prawiranegara

Sebagai orang terdekat Soekarno, Sjafruddin mendapat mandat untuk melanjutkan pemerintahan selama Soekarno-Hatta ditawan oleh Belanda. Saat itu, 19 Desember 1948, telah terjadi agresi militer II dengan menyerang dan menguasai ibu kota yang waktu itu masih di Yogyakarta, para pemimpin dan tokoh-tokoh nasional tertangkap dan diasingkan di Pulau Bangka.

(Sjafruddin Prawiranegara, foto: Wikipedia)

Akibat ditangkapnya sejumlah tokoh-tokoh penting itu, keadaan negara tidak berjalan normal. Maka untuk mengisi kekosongan pemerintahan, Sjafruddin mengusulkan dibentuknya pemerintahan darurat.

Sebagai orang kepercayaan Soekarno, Sjafruddin yang merupakan kelahiran Serang, Banten itu mendapat mandat melalui telegram Soekarno yang berbunyi, “Kami, Presiden Republik Indonesia memberitakan bahwa pada hari Minggu tanggal 19 Desember 1948 djam 6 pagi Belanda telah mulai serangannja atas Ibu Kota Jogjakarta. Djika dalam keadaan pemerintah tidak dapat mendjalankan kewajibannja lagi, kami menguasakan kepada Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Menteri Kemakmuran RI untuk membentuk Pemerintahan Darurat di Sumatra”.

Sayangnya, pesan tersebut tidak sampai ke tangan Sjafruddin. Meski demikian, pada saat bersamaan Sjafruddin Prawiranegara ternyata memiliki inisiatif yang sejalan dengan Presiden Soekarno. Dari situlah terbentuk sebuah pemerintahan darurat yang dipimpin langsung oleh Sjafruddin Prawiranegara.

Setelah melalui hasil pertemuan dan rapat, demi untuk menyelamatkan negara, maka pada 22 Desember 2948 di Payakumbuh dan disetujui oleh Gubernur Sumatera Mr.T.M.Hasan, PDRI diproklamirkan dan Sjafruddin duduk sebagai ketua/presiden merangkap Menteri Pertahanan, Penerangan, dan Luar Negeri, ad. interim. Kabinatenya dibantu Mr. T.M. Hasan, Mr. S.M. Rasjid, Mr. Lukman Hakim, Ir. Mananti Sitompul, Ir. Indracahya, dan Marjono Danubroto. Adapun Jenderal Sudirman tetap sebagai Panglima Besar Angkatan Perang.

Setalah melalui perjuangan panjang PDRI hingga akhirnya Belanda pun terjepit karena agregasi besar-besaran yang diluncurkan Indonesia hingga dunia internasional mengecam Belanda, akhirnya dilakukanlah perundingan bersama Soekarno-Hatta yang dinamakan perjanjian Reom-Royen. Nah, setelah perjanjian itu disepakati, Sjafruddi menyerakan kembali mandatnya kepada Presiden Soekarno pada 13 Juli 1949 di Yogyakarta. Dengan demikian, berakhir juga perjalanan DPRI dan Presiden Sjafruddin yang hanya menjabat genap 207 hari.

Mr. Assaat

Mr. Assaat Datuk Mudo, banyak yang asing dengan nama tersebut, padahal nama itu pernah menduduki posisi penting di negeri ini, yakni menjadi presiden sementara Indonesia. Kini, sosok Mr. Assaat menjadi sosok pemimpin yang terlupakan.

(Mr. Assaat dalam sebuah pertemuan. Foto: Cas Oothuys/Fotoleren)

Bagaimana awalnya, Mr. Assaat bisa diangkat menjadi presiden sementara di republik ini? Waktu itu, setelah perang kemerdekaan, digelar sebuah perundingan yang dinamakan Konferensi Meja Bundar yang dihadiri Wakil Presiden Moh. Hatta, Moh. Roem dengan Van Maarseven di Den Haag Belanda yang ditandatangani di Belanda, 27 Desember 1949.

Dalam perjanjian tersebut, diputuskan bahwa Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat (RIS), yang terdiri atas 16 negara bagaian, dan salah satunya adalah Republik Indonesia (RI). Tujuan dibentuknya negara RIS tidak lain adalah untuk memecah belah rakyat Indonesia dan melemahkan pertahanan Indonesia.

Karena Soekarno dan Moh. Hatta telah ditetapkan menjadi Presiden dan Perdana Menteri RIS, maka berarti terjadi kekosongan pimpinan pada Republik Indonesia. Assaat adalah Pemangku Jabatan Presiden RI yang diperintahkan langsung oleh Soekarno.

Pada masa pemeritahannya, Assaat diketahui sebagai pemimpin yang berperan penting sebagai pendiri dari Universitas Gadjah Mada (UGM) yang merupakan kampus pertama yang dibangun oleh negara Indonesia.

Assaat yang dikenal sebagai pemimpin yang cerdas membuat Soekarno memberikan kepercayaan kepadanya untuk memimpun Republik Indonesia (RI), namun kepemimpinan Assaat hanya berlangsung sekira 9 bulan, seiring dengan berakhirnya masa jajahan Belanda, RIS dan RI sama-sama diakui dunia internasional, keduanya kemudia dilebur menjadi satu menjadi NKRI pada 15 Agustus 1950. Seiring dengan berlakunya NKRI, masa jabatan Assaat pun berakhir dan Soekarno kembali menjadi Presiden Indonesia yang sah dan Moh.Hatta adalah wakilnya.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya