JAKARTA - Partai Amanat Nasional (PAN) masih percaya diri 'pede' untuk mengusung ketua umum-nya Zulkifli Hasan sebagai Calon Presiden (Capres) di Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 mendatang. Hal itu mengacu pada hasil Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PAN ke-tiga yang digelar di Bandung, 23 Agustus 2017 lalu.
"Memang di rakernas 2017 kami sudah berikan mandat kepada Ketum untuk menentukan arah politik kami dan menentukan Ketum maju di Pilpres 2019. Tetapi nanti ya tunggu segala sesuatu itu perlu lagi difinalkan di rakernas 2018," kata Sekretaris Jenderal PAN Eddy Soeparno di kantor DPP PAN, Senopati, Jakarta Selatan, Kamis (12/4/2018).
Eddy menekankan hingga saat ini internalnya masih menghargai hasil rekomendasi Rakernas tersebut terkait dengan sikap politik di pesta demokrasi tahun 2019 itu. Meskipun, saat ini belum ada partai manapun yang melirik Zulkifli Hasan untuk maju sebagai calon orang nomor satu di Indonesia itu.
"Saya pikir sampai saat ini kami masih konsisten, kami partai kader, kami secara konsisten ingin mengedepankan kader terbaik kami. kader terbaik kami hari ini namanya Zulhas (Zulkifli Hasan). Tentu sebagai partai kader kami akan bekerja esktra maksimal jika kader kami maju di perhelatan 2019 di pilpres," papar Eddy.
(Baca: PAN Pastikan Belum Masuk ke Koalisi Prabowo ataupun Jokowi)
Kendati begitu, Eddy mengungkapkan bahwa partainya tetap akan melihat dinamika perpolitikan Indonesia yang berkembang. Tak hanya itu, Eddy menyatakan masih melihat nilai jual dari sosok Zulkifli Hasan di masyarakat.
"Begini kami lihat sekarang realita politik yang ada, mayoritas penduduk Indonesia berasal dari tanah Jawa. Jadi kami lihat pak Zul itu sebagai orang Lampung, beliau adalah tokoh sangat kuat di luar Jawa dan memang sebagai tokoh Sumatera, beliau sangat dominan," tutur Eddy.
Apalagi, kata Eddy, pencapresan Zulkifli terbilang berat. Pasalnya, Eddy mengakui partai berlambang matahari putih itu hanya memperoleh suara 7,5 % di skala Nasional.
Oleh karenanya, terkait pencapresan Zulkifli Hasan, PAN masih akan merajut konsolidasi dengan partai politik yang ada untuk membangun koalisi. Sebab itu, Eddy menekankan, partainya belum menentukan sikap apapun, lantaran masih merajut komunikasi politik dengan partai lain.
(Baca juga: Prabowo Nyapres, Golkar: Kami Bisa Susun Strategi Menangkan Jokowi 2 Periode)
"Kami lakukan pembicaraan yang seluas-luasnya dengan semua parpol, tokoh, capres, termasuk juga kami dapatkan masukan dari akar rumput kami dan konstituen," ucap Eddy.
Disisi lain, dengan adanya fenomena politik saat ini, Eddy menyebut partainya akan kembali menggelar Rakernas tahun 2018. Salah satu agendanya adalah, akan membahas sikap PAN di Pemilu 2019.
"Ya itu karena agenda rakernas 2017 sebelum agenda itu ada perubahan, nanti kalau mungkin ada perubahan kami laksanakan di 2018, mudah-mudahan sebelum puasa di pertengahan Mei," ungkap Eddy.
Dalam peta politik saat ini, kandidat calon presiden di Pemilu 2019 masih menguat di dua kandidat, yakni, Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi) dan Ketua Umum Partai Gerindra.
PAN sendiri masih merajut komunikasi dengan seluruh partai koalisi calon-calon tersebut. Terakhir, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan, ikut berkuda saat Gerindra menggelar Rapimnas. Namun, hal itu ditampik sebagai sinyal untuk merapat ke koalisi Prabowo.
(Ulung Tranggana)