Kericuhan di Rutan Cabang Salemba Mako Brimob Dipicu Rasa Lapar?

Fahreza Rizky, Jurnalis
Kamis 10 Mei 2018 11:21 WIB
Anggota Brimob saat bersiaga di depan Mako Brimob Kelapa Dua Depok. (Foto: ANTARA/Indrianto Eko Suwarso)
Share :

DEPOK - Kerusuhan terjadi di Rutan Cabang Salemba Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, antara narapidana kasus terorisme (napiter) dengan sejumlah anggota Polri. Pertikaian tidak terelakkan hingga merenggut sejumlah korban jiwa.

Mereka yang bergelimpangan nyawa, di antaranya lima orang anggota Polri, yang mayoritas berasal dari Densus 88 Antiteror, dan satu orang napiter. Mayoritas polisi yang tewas disebut luka pada bagian leher akibat sayatan atau sabetan senjata tajam.

Sementara itu, satu napiter yang tewas lantaran diterjang timah panas petugas. Ia diklaim hendak merebut senjata, hingga akhirnya terpaksa ditindak tegas.

Setidaknya, dua kali kata 'makanan' terlontar dari mulut polisi. Pertama, makanan dianggap menjadi biang keladi kerusuhan berdarah di Rutan Mako Brimob.

BACA JUGA: 30 Senjata yang Direbut Napi Teroris di Mako Brimob Hasil Operasi Antiteror

Berdasarkan keterangan dari pihak kepolisian, mulanya seorang tahanan kasus terorisme bernama Wawan, menanyakan makanan yang dikirimkan keluarganya ke petugas rutan. Akan tetapi, makanan itu disebut dipegang petugas lainnya.

Merasa tidak terima, Wawan lalu disebut memprovokasi napi-napi lainnya untuk menggelorakan perlawanan. Singkat cerita, kerusuhan pun tidak terjadi. Itu kata 'makanan' yang pertama.

Yang kedua, kata 'makanan' kembali terlontar dari mulut polisi. Kali ini beda persoalannya. Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Setyo Wasisto mengatakan, salah seorang anggotanya bernama Bripka Iwan Sarjana disandera para napiter.

(Penjagaan berlapis di pintu Mako Brimob Kelapa Dua Depok. Foto: ANTARA)

Selama berjam-jam, Iwan, kata polisi, masih berada dalam 'dekapan' para napiter. Polisi pun mengutus jajarannya untuk melakukan negosiasi dengan para napiter dalam rangka membebaskan Iwan.

Singkat cerita, tepat pada Rabu 9 Mei 2018 pukul 00.00, Iwan berhasil dibebaskan dari sandera para napiter. Tim negosiator 'membarter' Iwan dengan sejumlah makanan yang dimintakan para napiter.

"Mereka minta makanan. Maka kita bujuk mereka untuk bebaskan dulu," kata Setyo di Kelapa Dua, Depok, Kamis (10/5/2018). Akhirnya, para napiter setuju dengan kesepakatan itu dan membebaskan Iwan.

Menurut Polri, saat dibebaskan, Iwan dalam kondisi luka lebam di bagian wajahnya dan lainnya, sehingga ia langsung dilarikan ke RS Polri guna perawatan lebih lanjut. Dengan demikian, kata 'makanan' dalam kasus kerusuhan di rutan Mako Brimob menjadi satu hal yang tidak bisa dilepaskan dalam fakta kejadian.

Meskibegitu, sejumlah pihak tidak memercayai begitu saja statement yang dikeluarkan Polri. Salah satunya pengamat terorisme Al Chaidar.

Al Chaidar berujar, dirinya tidak yakin pemicu kericuhan antara narapidana kasus terorisme (napiter) dengan anggota Polri di Rutan Mako Brimob disebabkan oleh masalah sepele, yakni makanan atau urusan perut.

BACA JUGA: 155 Napi Teroris Mako Brimob Akan Dipindah ke Nusakambangan

Menurut dia, insiden yang menyebabkan banyak korban bergelimpangan itu murni disebabkan perlawanan para mujahidin.

"Bukan masalah makanan. (Ini) perlawanan murni mujahidin ISIS," katanya kepada Okezone.

Al Chaidar menyarankan agar penegak hukum membuat rutan khusus untuk napiter. Tujuannya agar virus radikalisme yang masih melekat dengan napiter, tidak menyebar ke napi kasus lainnya.

"Aparat harus membuat penjara yang khusus," jelas dia.

Lebih dari itu, Al Chaidar mengatakan bahwa polisi dianggap sebagai thoghut oleh para napiter. Sehingga, tidak aneh ketika terjadi perlawanan dari mereka, meskipun dari dalam rutan.

"Polisi dianggap thoghut oleh ISIS. Napiter lebih militan, lebih fatalis," pungkasnya.

(Ramdani Bur)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya