Kericuhan di Rutan Cabang Salemba Mako Brimob Dipicu Rasa Lapar?

Fahreza Rizky, Jurnalis
Kamis 10 Mei 2018 11:21 WIB
Anggota Brimob saat bersiaga di depan Mako Brimob Kelapa Dua Depok. (Foto: ANTARA/Indrianto Eko Suwarso)
Share :

Menurut Polri, saat dibebaskan, Iwan dalam kondisi luka lebam di bagian wajahnya dan lainnya, sehingga ia langsung dilarikan ke RS Polri guna perawatan lebih lanjut. Dengan demikian, kata 'makanan' dalam kasus kerusuhan di rutan Mako Brimob menjadi satu hal yang tidak bisa dilepaskan dalam fakta kejadian.

Meskibegitu, sejumlah pihak tidak memercayai begitu saja statement yang dikeluarkan Polri. Salah satunya pengamat terorisme Al Chaidar.

Al Chaidar berujar, dirinya tidak yakin pemicu kericuhan antara narapidana kasus terorisme (napiter) dengan anggota Polri di Rutan Mako Brimob disebabkan oleh masalah sepele, yakni makanan atau urusan perut.

BACA JUGA: 155 Napi Teroris Mako Brimob Akan Dipindah ke Nusakambangan

Menurut dia, insiden yang menyebabkan banyak korban bergelimpangan itu murni disebabkan perlawanan para mujahidin.

"Bukan masalah makanan. (Ini) perlawanan murni mujahidin ISIS," katanya kepada Okezone.

Al Chaidar menyarankan agar penegak hukum membuat rutan khusus untuk napiter. Tujuannya agar virus radikalisme yang masih melekat dengan napiter, tidak menyebar ke napi kasus lainnya.

"Aparat harus membuat penjara yang khusus," jelas dia.

Lebih dari itu, Al Chaidar mengatakan bahwa polisi dianggap sebagai thoghut oleh para napiter. Sehingga, tidak aneh ketika terjadi perlawanan dari mereka, meskipun dari dalam rutan.

"Polisi dianggap thoghut oleh ISIS. Napiter lebih militan, lebih fatalis," pungkasnya.

(Ramdani Bur)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya