JAKARTA – Kartunis senior Gerardus Mayela (GM) Sudarta meninggal dunia pagi tadi dalam usia 72 tahun. Sebelum mengembuskan napas terakhirnya, Sudarta diketahui sudah lama sakit-sakitan, tapi tetap berkarya.
“Sakitnya sudah lama,” kata Pemimpin Redaksi Harian Kompas, Budiman Tanuredjo kepada Okezone, Sabtu (30/6/2018).
Budiman belum mengetahui di mana GM Sudarta meninggal. Namun, dia memastikan bahwa jenazah Sudarta kini berada di rumah duka kawasan Sinar Kasih, Batu Tulis, Bogor, Jawa Barat. “Saya lagi menuju ke sana,” ujarnya di ujung telepon.
GM Sudarta merupakan tokoh pencipta Oom Pasikom yang menghiasi Harian Kompas sejak 1967. Dalam 40 tahun terakhir, sang seniman memberi banyak pengaruh, inspirasi bahkan kritikan untuk kebaikan negeri melalui karyanya.
Salah satu karya GM Sudarta (Source: Kompas)
Budiman mengatakan GM Sudarta sudah pensiun dari Kompas. Meski sudah tak bekerja di media dan sering sakit-sakitan, naluri seni Sudarta tak pernah padam. “Masih tetap menghasilkan karya-karya,” ujarnya.
Budiman mengaku sangat kehilangan sosok GM Sudarta. Baginya, Sudarta adalah sosok kartunis legendaris yang kerap melakukan kritik sosial melalui karya-karyanya, tapi kartunnya tidak membuat orang lain marah. Malah orang sering tertawa geli saat melihat karya Sudarta.
“Kita belum bisa menemukan orang sekaliber GM (Sudarta),” kata Budiman.
Meninggalnya GM Sudarta mengundang duka dari berbagai kalanga. Sebagian tokoh membagikan dukanya di media sosial.
"Kami turut berdukacita atas wafatnya Mas GM Sudarta, kartunis @hariankompas yang menggores setiap dinamika penting negeri ini dalam karyanya selama setengah abad. #RIPGMSudarta," kata Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar di akun Twitternya.
Ekonom Rizal Ramli juga menulis secuil kenangannya dengan GM Sudarta. “Saya ingat minta tolong GM Sudarta untuk buatkan kartun Gus Dur sbg “Drunken Master”. GD senang banget, dipasang di ruang kerja di istana dan jadi cover TEMPO Rest in peace mas Sudarta,” cuitnya.
Jurnalis senior Goenawan Mohamad mengucapkan selamat jalan atas kepergian GM Sudarta menghadap Sang Khalik. "Ketika kemerdekaan mencipta —apalagi membuat karikatur— terancam di bawah Rezim Suharto — anda tetap menghasilkan pasemon yg lucu tapi lembut, tajam tapi tak meninggalkan luka," sebutnya.
(Salman Mardira)